Prof. Dorodjatun: Pemikiran Sumitro Relevan untuk Bertahan di Era Ambisi

Puja Pratama
3 Juni 2025, 12:28
Dorodjatun Kuntjorojakti, Sumitro, Sumitro Djojohadikusumo, Simposium Sumitronomics
Katadata/Lourent
Prof. Dorodjatun Kuntjorojakti mengingatkan akan adanya the age of ambition atau era ambisi di mana negara-negara besar menyulut perang dagang, seperti yang dilakukan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap Cina dan negara-negara lain. Hal ini disampaikan dalam pidato kuncinya di Simposium Nasional \"Sumitronomics dan Arah Ekonomi Indonesia\" yang diselenggarakan Katadata, di Jakarta, Selasa (3/6).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Guru besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UI, Prof. Dorodjatun Kuntjoro Jakti, Ph.D., menilai kondisi perekonomian global sudah bergeser dari era kapitalisme dan sosialisme ke era ekonomi penuh ambisi alias the age of ambition. Persaingan di antara negara-negara besar dalam perang dagang ini membuat sejumlah pemikiran Sumitro Djojohadikusumo masih relevan dalam kondisi saat ini. 

“Kapitalisme dan sosialisme sudah berakhir, yang muncul saat ini adalah era ambisi. Tidak malu dengan peringatan negara-negara besar sampai melaksanakan perang dagang.” kata Dorodjatun pada Simposium Nasional “Sumitronomics dan Arah Ekonomi Indonesia" yang digelar Katadata di  Grand Ballroom JS Luwansa, Jakarta, pada Selasa (3/6). Dalam acara ini, Katadata menggandeng Ikatan Alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (Iluni FEB UI) sebagai knowledge partner.  

Menurut Dorodjatun, era ambisi ini bisa menimbulkan resesi atau depresi ekonomi di tengah kondisi ketidakpastian ekonomi. Sebagai solusinya, berbagai pemikiran begawan ekonomi Sumitro Djojohadikusumo masih relevan membantu Indonesia bertahan di tengah ketidakpastian.

Tiga Begawan Ekonomi Indonesia

Dorodjatun menyebut Sumitro merupakan salah satu dari tiga orang yang layak disebut sebagai begawan ekonomi Indonesia dan bisa diteladani pemikiran-pemikirannya hingga kini. “Ada tiga begawan ekonomi dengan pemikiran-pemikirannya: Hattanomics, Sumitronomics, dan Widjojonomics,” ujar dia. 

Pemikiran mereka layak mendapatkan embel-embel "nomics" di belakang namanya karena memenuhi syarat sebagai mahzab ekonomi. Misalnya, pemikiran-pemikiran mereka memiliki filosofi, visi dan misi, memiliki landasan teori yang kuat, hingga metode analisis, dan kebijakan yang ditempuh. 

Dorodjatun menyebut Mohammad Hatta atau Bung Hatta merupakan penggagas ekonomi konstitusional. Hatta terlibat langsung dalam penyusunan kebijakan ekonomi saat Indonesia merdeka.

Sementara itu, ekonomi kerakyatan yang dimotori oleh Sumitro Djojohadikusumo dan bertujuan untuk mencapai kemakmuran rakyat dinilai masih dengan susah payah lakukan hingga hari ini. Di sisi lain, Widjojonomics merupakan pemikiran-pemikiran ekonomi Widjojo Nitisastro yang menekankan pada pertumbuhan dan pasar bebas. 

Teguh Dartanto, Ph.D., Dekan  FEB UI periode 2021-2025,  menyebutkan pemikiran Sumitro merupakan pemikiran ekonomi berbasis bukti. Ia berharap diskusi terkait pemikiran para begawan ekonomi, terutama pemikiran Sumitro, tak hanya menjadi tren sesaat, tapi juga solusi untuk masalah ekonomi Indonesia. 

“Semoga bukan tren sesaat tetapi benar benar ada ketulusan untuk menggali pemikiran Pak Mitro untuk solusi perekonomian Indonesia,” ujar Teguh dalam Simposium Nasional "Sumitronomics dan Arah Ekonomi Indonesia" yang diselenggarakan Katadata, di Grand Ballroom JS Luwansa, Jakarta, Selasa (3/6). 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Puja Pratama

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...