Prasasti: RI Perlu Investasi Jumbo untuk Capai Target Pertumbuhan Ekonomi 8%
Prasasti Center for Policy Studies alias Prasasti mengungkapkan Indonesia memerlukan peningkatan investasi domestik berukuran jumbo. Ini menjadi tantangan besar Presiden Prabowo Subianto untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8% pada 2029.
Research Director Prasasti Gundy Cahyadi mengungkapkan belakangan pertumbuhan investasi di Indonesia justru menurun. “Kita sempat menikmati pertumbuhan investasi double digit di sekitaran 15%. Di tahun terakhir yaitu 2024, pertumbuhan investasi itu hanya mencapai sekitaran 6%,” katanya dalam acara Peluncuran Prasasti Center for Policy Studies di Jakarta, Senin (30/6).
Nilai investasi perlu ditingkatkan untuk dapat memenuhi pertumbuhan ekonomi 8%. Berdasarkan kajian Badan Perencanaan Pembangunan Nasional alias Bappenas, total investasi yang tercatat di Indonesia pada 2024 mencapai Rp 1.700 triliun.
Jika ingin mencapai pertumbuhan ekonomi 8% pada 2029. Bappenas memproyeksikan harus ada investasi sekitar Rp 3.415 triliun pada 2019. "Yang berarti dua kali lipat dari apa yang tercatat di tahun 2024,” ujar Gundy.
Apabila ditotal, Gundy mengatakan pertumbuhan investasi sejak 2025 hingga 2029 yang diperlukan Indonesia mencapai sekitar Rp 13 ribu triliun. Rinciannya, pada 2025 dibutuhkan investasi 1.906 triliun, pada 2026 Rp 2.175 triliun, pada 2027 Rp 2.567 triliun, pada 2028 Rp 2.970 triliun, dan pada 2029 Rp 3.425 triliun.
“Ini angka yang sangat besar, Rp 13 ribu triliun itu kurang lebih dua per tiga dari perekonomian Indonesia. Mungkin analoginya adalah perlu menambahkan satu lagi Pulau Sumatra dan Pulau Jawa di perekonomian Indonesia,” kata Gundy.
RI Punya Potensi Investasi yang Besar
Meski banyak membutuhkan investasi, Gundy menyebut Indonesia memiliki segudang potensi yang besar. Negara ini tidak perlu memulai dari nol untuk memenuhi kebutuhan investasi lima tahun ke depan.
Ada tiga sektor strategis terbesar, yaitu mineral, minyak and gas, serta agrikultur dan maritim. Menurut dia, total investasi yang tersedia di sektor tersebut berjumlah sekitar Rp 9.500 triliun.
“Ini sekitar tiga per empat dari apa yang kita perlukan di lima tahun ke depan untuk bisa mencapai pertumbuhan ekonomi di 8%,” kata Gundy.
