Pimpinan BRICS Kecam Serangan ke Iran dan Gaza, Desak Israel Tarik Pasukan

Ferrika Lukmana Sari
7 Juli 2025, 07:51
BRICS
123RF.com
BRICS, sebuah platform utama untuk pasar negara berkembang dan negara-negara berkembang, menyambut lima anggota baru: Mesir, Iran, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Etiopia.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Para pemimpin negara BRICS mengecam serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran serta mendesak Israel menarik pasukannya dari jalur Gaza. Mereka juga menyerukan penyelesaian yang adil dan berkelanjutan atas berbagai konflik di Timur Tengah.

Pernyataan itu disampaikan dalam deklarasi bersama usai pertemuan tingkat tinggi BRICS di Brasil, Minggu (6/7) waktu setempat. Dalam dokumen tersebut, para pemimpin sepakat mengutuk serangan militer terhadap Iran yang dimulai sejak 13 Juni lalu oleh Israel dan disusul serangan udara oleh AS sembilan hari kemudian.

"Serangan tersebut merupakan pelanggaran terhadap hukum internasional dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)," demikian isi pernyataan resmi BRICS, blok negara berkembang yang kini beranggotakan 10 negara dikutip dari Bloomberg, Senin (7/7).

Mereka juga menyampaikan keprihatinan mendalam atas situasi di wilayah pendudukan Palestina. Para pemimpin BRICS menyoroti serangan Israel dan hambatan terhadap masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza, meski Israel membantah tuduhan tersebut.

"Kami menyerukan gencatan senjata permanen dan tanpa syarat, serta pembebasan seluruh sandera," demikian pernyataan BRICS.

Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa juga menyampaikan kekhawatiran yang sama dalam pidatonya. "Afrika Selatan sangat prihatin dengan memburuknya situasi perdamaian dan keamanan di Timur Tengah," ujar Ramaphosa di hadapan para pemimpin BRICS lain di Rio de Janeiro.

Dia menyatakan bahwa serangan Israel dan AS terhadap Iran menimbulkan kekhawatiran serius terkait prinsip hukum internasional, termasuk kedaulatan, integritas wilayah, dan perlindungan terhadap warga sipil.

Peningkatan Belanja Militer Global

Para pemimpin BRICS juga menyoroti peningkatan belanja militer global yang dinilai mengkhawatirkan. Sikap ini bertolak belakang dengan desakan Presiden AS Donald Trump yang meminta negara-negara NATO meningkatkan anggaran pertahanan hingga 5% dari PDB.

Trump menilai peningkatan itu perlu untuk menghadapi ancaman Rusia, yang justru merupakan anggota pendiri BRICS.

Mereka juga mengkritik praktik perdagangan sepihak yang dianggap merugikan, seperti penerapan tarif dan hambatan non-tarif yang tidak sesuai dengan aturan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), meski tak menyebut langsung AS.

Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva selaku tuan rumah KTT, kembali menegaskan pentingnya reformasi Dewan Keamanan PBB agar lebih mewakili kepentingan negara-negara di Selatan Global.

"BRICS kini semakin memainkan peran dalam menentukan arah pembahasan global, baik soal pembangunan, tata kelola multipolar, maupun isu keamanan," ujar Ramaphosa.

Saat ini BRICS beranggotakan Brasil, Rusia, India, Cina, Afrika Selatan, serta anggota baru yakni Indonesia, Ethiopia, Uni Emirat Arab, Iran, dan Mesir. Perluasan ini bertujuan meningkatkan pengaruh BRICS dalam tatanan global yang selama ini didominasi oleh negara-negara Barat.

"Kita harus terus mendorong upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan dan memastikan perdamaian yang berkelanjutan," ujar Ramaphosa.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ferrika Lukmana Sari

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...