RI dan AS Sepakat Intensifkan Negosiasi Tarif Selama 3 Pekan ke Depan

Rahayu Subekti
10 Juli 2025, 11:16
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, bertemu dengan US Secretary of Commerce Howard Lutnick dan United States Trade Representative Jamieson Greer pada Rabu (9/7).
Katadata
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, bertemu dengan US Secretary of Commerce Howard Lutnick dan United States Trade Representative Jamieson Greer pada Rabu (9/7).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Indonesia dan Amerika Serikat sepakat untuk mengintensifkan perundingan tarif impor AS bagi produk Tanah Air dalam tiga pekan ke depan. Tujuannya adalah mencapai kesepakatan yang saling menguntungkan.

Kesepakatan tersebut terjalin setelah Pemerintah Indonesia menggelar pertemuan penting dengan Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengenai pengumuman kenaikan tarif sebesar 32% terhadap produk Indonesia. Delegasi Indonesia yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, bertemu dengan US Secretary of Commerce Howard Lutnick dan United States Trade Representative, Jamieson Greer, pada Rabu (9/7). 

Pertemuan ini menjadi yang pertama sejak Presiden AS Donald Trump mengumumkan pemberlakuan tarif baru tersebut yang mulai berlaku pada 1 Agustus 2025.

“Kita sudah memiliki pemahaman yang sama dengan AS terkait progres perundingan. Ke depan, kita akan terus berupaya menuntaskan negosiasi ini dengan prinsip saling menguntungkan,” kata Airlangga dalam pernyataan tertulisnya, Kamis (10/7).

Untuk itu ia memastikan, Indonesia akan melanjutkan negosiasi dengan AS dengan itikad baik. Hal ini untuk memastikan bahwa kerja sama yang terjalin mampu memberikan manfaat yang nyata bagi kedua negara.

Menariknya, Indonesia menjadi salah satu negara pertama yang diterima Pemerintah AS untuk membahas isu tarif ini. Menurut Airlangga, hal ini mencerminkan kuatnya komitmen kedua negara dalam menjaga stabilitas hubungan perdagangan.

Dalam pertemuan itu, Airlangga juga menyampaikan apresiasi atas proses negosiasi yang berjalan secara konstruktif. Perundingan meliputi berbagai isu penting, seperti tarif dan hambatan non-tarif, ekonomi digital, keamanan ekonomi, serta kerja sama investasi dan komersial.

Dorong Kerja Sama Strategis

Airlangga menambahkan bahwa hubungan Indonesia dan AS selama ini terjalin sangat baik dan perlu terus diperkuat. “Kita ingin meningkatkan hubungan komersial Indonesia dengan AS,” ujar Airlangga.

Sebagai bagian dari penguatan hubungan dagang, beberapa perusahaan Indonesia di sektor pertanian dan energi telah menandatangani memorandum of understanding atau MoU dengan perusahaan-perusahaan AS. Kerja sama ini mencakup pembelian produk unggulan AS dan meningkatkan investasi.

Kedua negara juga melihat peluang besar untuk memperluas kerja sama di sektor strategis, khususnya dalam pengolahan mineral kritis. Indonesia diketahui memiliki cadangan besar nikel, tembaga, dan kobalt.

“Kita perlu mengoptimalkan potensi kerja sama pengolahan mineral kritis tersebut,” kata Airlangga.

Dari BUMN hingga Swasta Terlibat

Dalam pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri, disebutkan bahwa perusahaan Indonesia yang menandatangani MoU terdiri dari badan usaha milik negara (BUMN) dan perusahaan swasta. Mereka bergerak di berbagai sektor seperti energi, pangan, dan tekstil.

Beberapa perusahaan yang terlibat antara lain:

  • PT Pertamina (Persero) dari sektor energi.
  • PT Busana Apparel Group mewakili Asosiasi Pertekstilan Indonesia.
  • FKS Group dan Sorini Agro Asia Corporindo dari sektor pangan.
  • Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia.

Semua perusahaan ini terlibat dalam diskusi yang produktif dengan mitra-mitra mereka di Amerika Serikat.

Wakil Duta Besar atau Kuasa Usaha Ad Interim Kedutaan Besar Indonesia untuk Amerika Serikat, Sade Bimantara, menyampaikan bahwa pertemuan tersebut menghasilkan sejumlah kesepakatan dan komitmen komersial penting. Penandatanganan MoU ini dinilai membuka peluang kerja sama baru dan memperkuat hubungan ekonomi kedua negara.

“Kami yakin, kemitraan ini bisa menciptakan ribuan lapangan kerja berkualitas, mendukung UMKM, serta mempercepat pertukaran pengetahuan dan teknologi di kedua negara,” ujar Sade.

Ia juga menegaskan bahwa Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk terus membina hubungan ekonomi yang saling menguntungkan dan berorientasi ke masa depan dengan Amerika Serikat.

 

 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Rahayu Subekti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...