DPR Usul Indonesia Tawarkan Investasi Manufaktur di AS untuk Redam Tarif Trump
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menanggapi kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mengenakan tarif impor sebesar 32% untuk produk asal Indonesia. Ketua Badan Anggaran DPR, Said Abdullah, menyarankan agar pemerintah Indonesia menawarkan investasi langsung di sektor manufaktur di AS sebagai solusi negosiasi tarif Trump.
Menurut Said, masih ada peluang bagi Indonesia untuk lolos dari tarif tinggi, seperti yang disebutkan dalam surat resmi dari Presiden Trump kepada Presiden Prabowo Subianto. Salah satu syaratnya adalah Indonesia mau membangun pabrik di AS.
“Tentu saja pemerintah harus membawa bekal yang lebih menjanjikan dalam proses negosiasi tersebut, seperti poin yang ditekankan yakni memungkinkan adanya perusahaan Indonesia melakukan aktivitas manufaktur di AS,” kata Said dalam keterangan tertulisnya, Kamis (10/7).
Selain membuka pabrik, upaya lain yang bisa ditempuh adalah mengurangi defisit perdagangan dengan AS yang saat ini mencapai US$ 19 miliar.
Trump Siap Hapus Tarif Jika RI Penuhi Syarat
Trump memberikan peluang agar Indonesia bisa lepas dari beban tarif tinggi. Syaratnya, perusahaan-perusahaan Indonesia harus berinvestasi langsung di AS.
“Tidak akan ada tarif jika Indonesia atau perusahaan di Indonesia memutuskan untuk membangun atau memproduksi produk di Amerika Serikat,” kata Trump dalam surat yang ia tandatangani pada 7 Juli 2025.
Ia juga menjanjikan proses perizinan yang cepat, hanya dalam hitungan minggu, jika Indonesia bersedia berinvestasi di sana.
Namun, Trump memperingatkan bahwa jika Indonesia membalas kebijakan tarif itu dengan tindakan serupa, AS akan menaikkan tarif tambahan hingga 32% lagi di atas tarif yang sudah berlaku.
Menurut Trump, kebijakan ini dibuat untuk mengoreksi hambatan perdagangan dari pihak Indonesia yang dinilai merugikan AS selama bertahun-tahun. “Defisit ini adalah ancaman besar bagi ekonomi dan keamanan nasional kami!” tegasnya.
