Abaikan Tekanan Trump, The Fed Tahan Suku Bunga Untuk Antisipasi Dampak Tarif

Ferrika Lukmana Sari
31 Juli 2025, 06:47
The Fed
Investing.com
Ketua The Fed Jerome Powell
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Ketua Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell tidak memberi sinyal akan menuruti permintaan Presiden Donald Trump untuk memangkas suku bunga dalam waktu dekat, meskipun muncul perbedaan pandangan di internal dewan gubernur bank sentral AS tersebut.

The Fed memutuskan menahan suku bunga acuan jangka pendek di kisaran 4,25%-4,50% untuk kelima kalinya sepanjang tahun ini. Menurut Powell, perlu waktu lebih lama bagi The Fed untuk memahami dampak kebijakan tarif Trump terhadap inflasi.

“Kami telah belajar bahwa proses ini mungkin lebih lambat dari yang diperkirakan. Kami pikir kami masih memiliki jalan panjang untuk benar-benar memahami bagaimana tarif akan memengaruhi inflasi dan perekonomian," kata Powell dikutip dari kantor berita Associated Press, Kamis (31/7).

Tanda Perpecahan di Internal The Fed

Keputusan untuk menahan suku bunga kali ini tidak bulat. Gubernur Christopher Waller dan Michelle Bowman memilih memangkas suku bunga, sementara sembilan pejabat lainnya, termasuk Powell, memilih tetap.

Ini merupakan pertama kalinya dalam lebih dari 30 tahun, dua dari tujuh gubernur yang berbasis di Washington menyatakan dissent atau tidak setuju. Satu anggota, Gubernur Adriana Kugler, absen dan tidak memberikan suara.

Langkah The Fed ini diprediksi akan memperpanjang ketegangan dengan Gedung Putih, karena Trump berkali-kali menekan bank sentral untuk memangkas suku bunga demi mendukung pertumbuhan ekonomi.

Powell sendiri tidak memberikan indikasi bahwa pemangkasan suku bunga akan dilakukan pada pertemuan selanjutnya. Probabilitas pemangkasan suku bunga pada September turun dari 60% menjadi 45% setelah konferensi pers, menurut CME FedWatch.

“Kami belum membuat keputusan apa pun untuk bulan September,” kata Powell. Ia menekankan bahwa pemangkasan terlalu dini bisa memicu inflasi, sementara terlambat bisa merugikan pasar tenaga kerja.

Pasar dan Ekonom Bereaksi

Komentar Powell menyebabkan pasar saham AS yang sebelumnya naik berbalik melemah. “Pasar tampaknya menilai Powell menolak kemungkinan pemangkasan suku bunga pada September,” kata Lauren Goodwin, kepala strategi pasar di New York Life Investments.

Powell juga menegaskan bahwa mayoritas anggota komite mendukung pandangan utama bahwa inflasi masih di atas target 2% dan pasar tenaga kerja masih cukup kuat, sehingga suku bunga sebaiknya tetap tinggi.

Pemerintah akan merilis data inflasi terbaru pada Kamis, yang diperkirakan menunjukkan kenaikan inflasi inti sebesar 2,7% dalam setahun, tidak termasuk energi dan pangan.

Pandangan Ekonom Soal Inflasi dan Suku Bunga

Ekonom Gus Faucher dari PNC Financial mengatakan, tarif kemungkinan hanya akan meningkatkan inflasi secara sementara, dan dampaknya akan terlihat lebih jelas di sisa tahun ini. Ia memperkirakan The Fed baru akan memangkas suku bunga pada Desember.

Sebaliknya, Trump berpendapat bahwa karena ekonomi AS sedang kuat, suku bunga seharusnya diturunkan. Namun, menurut prinsip kebijakan moneter, suku bunga biasanya dipertahankan tinggi saat ekonomi menguat untuk mengendalikan inflasi.

Data resmi menunjukkan, ekonomi AS tumbuh 3% pada kuartal II, setelah mengalami kontraksi 0,5% di kuartal pertama. Rata-rata pertumbuhan ekonomi semester I hanya sekitar 1,2%.

Manuver Politik di Internal The Fed

Perbedaan pendapat dari Waller dan Bowman dinilai sebagai manuver politik menjelang berakhirnya masa jabatan Powell pada Mei 2026. Waller bahkan disebut-sebut sebagai kandidat kuat pengganti Powell.

“Jika keduanya dissent, itu lebih menunjukkan audisi untuk kursi ketua The Fed daripada mencerminkan kondisi ekonomi,” tulis Michael Feroli, ekonom JPMorgan Chase.

Bowman terakhir kali dissent pada September 2024 saat The Fed memangkas suku bunga 0,5 poin. Ia saat itu menginginkan pemangkasan hanya 0,25 poin, karena inflasi masih di atas 2,5%.

Sementara Waller ingin pemangkasan suku bunga dengan alasan berbeda dari Trump. “Waller menilai pertumbuhan dan perekrutan tenaga kerja melambat, dan The Fed perlu memangkas suku bunga untuk mencegah lonjakan pengangguran,” tulis laporan itu.

Prospek Ke Depan

Dari 19 anggota komite kebijakan The Fed, hanya 12 yang memiliki hak suara. Pada pertemuan Juni, tujuh di antaranya mendukung suku bunga tetap, dua mendukung satu kali pemangkasan, dan delapan lainnya mendukung dua kali pemangkasan. Waller dan Bowman diperkirakan menjadi dua dari mereka yang menginginkan tiga kali pemangkasan tahun ini.

Ramalan kuartalan terakhir The Fed menunjukkan kemungkinan dua kali pemangkasan suku bunga tahun ini, dengan tiga pertemuan kebijakan tersisa: September, Oktober, dan Desember.

Beberapa ekonom menilai pasar tenaga kerja juga mulai melemah. “Kita berada di situasi perekrutan yang jauh lebih lambat dari yang diperkirakan banyak orang,” kata Tom Porcelli, kepala ekonom AS di PGIM Fixed Income. Pada Juni, sektor swasta hanya menambah 74.000 pekerjaan, mayoritas dari sektor kesehatan.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ferrika Lukmana Sari

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...