Ekonomi RI Tumbuh 5,12% di Kuartal II, Masih Kalah dari Vietnam 7,96%
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2025 mencapai 5,12% secara tahunan (year on year/yoy) dengan nilai Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar Rp5.947 triliun.
Namun, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih tertinggal dari Vietnam yang mencatat kenaikan 7,96% pada kuartal II 2025. Capaian tersebut menjadi yang tertinggi kedua dalam lima tahun terakhir, hanya di bawah rekor 8,56% pada kuartal II 2022.
Menurut laporan Vietnam Today (5/7), pertumbuhan ekonomi enam bulan pertama 2025 terutama ditopang sektor jasa serta industri dan konstruksi. Sektor jasa tumbuh 8,14% dan menyumbang 52,2% terhadap nilai tambah ekonomi.
Sementara itu, sektor industri dan konstruksi tumbuh 8,33% dengan kontribusi 42,2% terhadap nilai tambah ekonomi. Industri pengolahan dan manufaktur menjadi pendorong utama dengan pertumbuhan 10,11%, sedangkan sektor konstruksi meningkat 9,62%.
RI Masih Ungguli Malaysia dan Thailand
Meski kalah dari Vietnam, capaian Indonesia menjadi yang tertinggi dalam dua tahun terakhir dan melampaui Malaysia, Singapura, serta Thailand.
“Pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2025 tercatat 5,12% dibanding kuartal II 2024. Secara kuartalan, pertumbuhan mencapai 4,04% dibanding kuartal sebelumnya,” ujar Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Moh. Edy Mahmud, dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (5/8).
Di kawasan, Indonesia berada di atas Malaysia yang tumbuh 4,5% (yoy), Singapura 4,3%, dan Thailand yang diperkirakan hanya 2,3%. Meski begitu, BPS menilai capaian kuartal II menjadi sinyal positif di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Dari sisi lapangan usaha, seluruh sektor mencatat pertumbuhan positif. Industri pengolahan, pertanian, perdagangan, dan pertambangan menjadi kontributor terbesar dengan total 63,59% terhadap PDB.
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga naik 4,97%, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 6,99%, dan ekspor melonjak 10,67%. Konsumsi rumah tangga menyumbang 2,64% dari total pertumbuhan 5,12%.
Edy menjelaskan, konsumsi rumah tangga terus meningkat seiring bertambahnya belanja kebutuhan pokok dan mobilitas masyarakat.
“Kebutuhan bahan makanan dan makanan jadi naik, terutama karena aktivitas pariwisata selama libur hari besar keagamaan dan libur sekolah,” ujar Edy.
