Investasi RI Melonjak Tajam di Kuartal II, Konstruksi dan Mesin Jadi Pendorong

Rahayu Subekti
12 Agustus 2025, 08:49
investasi
ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/agr
Pekerja menyelesaikan proyek pembangunan pabrik di kawasan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kendal, Kaliwungu, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, Kamis (7/8/2025). Pemprov Jawa Tengah mencatat realisasi investasi pada semester I 2025 sebesar Rp45,58 triliun yang setara dengan 58,19 persen dari target tahunan serta turut mendorong penyerapan 222.373 tenaga kerja sehingga menjadikan Jawa Tengah sebagai provinsi dengan penyerapan tenaga kerja tertinggi di pulau jawa.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Pertumbuhan investasi Indonesia pada kuartal II 2025 mengalami lonjakan signifikan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) meningkat dari 2,12% pada kuartal I menjadi 6,99% pada kuartal II 2025.

Faisal Rachman, Head of Macroeconomics and Market Research Permata Bank, menyebut lonjakan tersebut cukup mengejutkan. Ia menjelaskan, kenaikan belanja pemerintah baru terjadi pada akhir Juni 2025.

“Kalau kita lihat, dampak kenaikan belanja pemerintah terhadap investasi memang tidak menyeluruh dan belum terasa secara penuh karena baru dilakukan pada akhir Juni atau akhir kuartal II. Sehingga multiplier effect-nya juga belum terasa,” ujar Faisal dalam Media Briefing Virtual PIER Economic Review: Semester I 2025, Senin (11/8).

Menurut Faisal, ada dua faktor utama pendorong kenaikan investasi tersebut:

  1. Bangunan dan konstruksi yang sejalan dengan belanja modal pemerintah yang naik dari 1,35% menjadi 4,89% di akhir kuartal II.
  2. Peralatan dan mesin yang tumbuh di luar perkiraan, melonjak dari 7,95% menjadi 25,3%.

Namun yang cukup mengagetkan adalah lonjakan investasi pada komponen peralatan dan mesin. “Loncatnya cukup signifikan, di luar ekspektasi kami,” ujar Faisal.

Menurut Faisal, hal ini perlu diwaspadai karena berpotensi memengaruhi pertumbuhan ekonomi pada sisa tahun ini. Ia melihat peningkatan belanja peralatan dan mesin bisa menimbulkan fenomena front loading.

“Kalau kita lihat, ini sejalan dengan meningkatnya impor, terutama dari sektor non-migas,” kata Faisal.

Faisal menjelaskan bahwa dampak investasi ini baru pada tahap pemasangan dan belum berdampak pada peningkatan kapasitas produksi. Oleh sebab itu, kenaikan investasi tersebut belum terlihat dalam kehidupan sehari-hari karena masih di level awal.

Meski begitu, ia menegaskan pemerintah harus berhati-hati. “Kemungkinan ini hanya front loading, dan impor barang modal bisa melemah pada semester II,” katanya. 

Kenapa Ada Fenomena Front Loading?

Front loading adalah kegiatan mitra dagang yang mengimpor produk lebih awal dan menumpuknya. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menjelaskan aktivitas ini kemungkinan terjadi sebelum tarif perdagangan yang dikenakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mulai berlaku.

“Biasanya, sebelum tarif diterapkan, para produsen atau pelaku usaha melakukan front loading terlebih dahulu, yaitu melakukan transaksi ekspor impor sebelum tarif resmi diberlakukan,” ujar Josua.

Ia menambahkan, peningkatan signifikan dalam data ekspor impor yang dicatat Badan Pusat Statistik (BPS) berkaitan dengan aktivitas front loading tersebut, yang muncul menjelang implementasi tarif Trump.

Sebelumnya, BPS mencatat impor barang modal jenis mesin pada kuartal II 2025 tumbuh sebesar 28,16%. Peningkatan impor ini menjadi salah satu faktor utama kenaikan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB).

Selain itu, ekspor barang nonmigas dan ekspor jasa juga menunjukkan pertumbuhan positif. Beberapa komoditas nonmigas yang mengalami kenaikan nilai dan volume ekspor antara lain lemak dan minyak hewan atau nabati, besi dan baja, mesin dan peralatan listrik, serta kendaraan dan bagiannya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Rahayu Subekti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...