Pemerintah Bakal Tarik Utang Baru Rp 781,9 T di 2026, Terbesar Sejak Covid-19

Rahayu Subekti
19 Agustus 2025, 11:53
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto (kanan) bersama Menteri Keuangan Sri Mulyani (kiri) memberikan keterangan kepada wartawan terkait RAPB dan Nota Keuangan Tahun Anggaran 2026 di Jakarta, Jumat (15/8/2025). Dalam konferensi pers it
ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/foc.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto (kanan) bersama Menteri Keuangan Sri Mulyani (kiri) memberikan keterangan kepada wartawan terkait RAPB dan Nota Keuangan Tahun Anggaran 2026 di Jakarta, Jumat (15/8/2025). Dalam konferensi pers itu disebutkan proyeksi pendapatan negara 2026 mencapai Rp3.147,7 triliun atau tumbuh 9,8 persen dibanding outlook 2025 sementara belanja negara direncanakan sebesar Rp3.786,5 triliun, naik 7,3 persen dari outlook 2025.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Pemerintah menarik utang baru pada 2026  sebesar Rp 781,9 triliun yang nilainya menjadi terbesar sejak Covid-19. Penarikan utang baru ini tercatat dalam Buku II Nota Keuangan Beserta Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026.

“Dalam RAPBN tahun anggaran 2026, pembiayaan utang direncanakan sebesar Rp 781,9 triliun yang akan dipenuhi melalui penerbitan SBN dan penarikan pinjaman,” tulis pemerintah dalam Buku UU Nota Keuangan dikutip Selasa (19/8).

Pembiayaan utang yang berasal dari Surat Berharga Negara (SBN) akan dipenuhi melalui penerbitan Surat Utang Negara (SUN) dan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau sukuk negara.

Sementara itu, penarikan pinjaman pemerintah terdiri dari pinjaman dalam negeri dan pinjaman luar negeri. “Instrumen pinjaman akan lebih banyak dimanfaatkan untuk mendorong kegiatan atau proyek prioritas pemerintah,” tulis pemerintah.

Lebih lanjut, pemerintah memastikan pembiayan utang yang bersumber dari SBN (neto) direncanakan mencapai Rp 749,19 triliun . Angka ini naik sekitar 16,6% jika dibandingkan outlook APBN 2015 Rp 642,5 triliun.

Pembiayaan yang berasal dari pinjaman (neto) dalam RAPBN 2026 direncanakan sebesar Rp 32,67 triliun. Angka ini turun 74,9% dibandingkan outlook pada 2025 yang mencapai Rp 130,38 triliun.

“Pinjaman neto tersebut akan dipenuhi melalui pinjaman dalam negeri neto sebesar negatif Rp 6,53 miliar dan pinjaman luar negeri neto sebesar Rp 39,21 triliun,” tulis pemerintah.

Meski begitu, pemerintah memastikan akan tetap berhati-hati dalam menarik utang baru. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan pemerintah akan memprioritaskan penarikan utang dari dalam negeri.

“Kami akan menggunakan terutama sumber utang dalam negeri untuk menjaga keamanannya,” kata Sri Mulyani dalam konferensi pers RAPBN 2026 di Jakarta, Jumat (15/8).

Penarikan Utang Terbesar Sejak Pandemi

Rencana penarikan utang pada 2026 ini menjadi yang terbesar sejak pandemi Covid-19. Saat RI dilanda pandemi pada 2021, pemerintah menarik utang hingga Rp 870,5 triliun.

Selanjutnya penarikan utang terus turun. Pada 2022, pemerintah menarik utang baru mencapai Rp 696 triliun dan pada 2023 lebih turun lagi menjadi Rp 404 triliun.

Selanjutnya pada 2024, penarikan utang pemerintah kembali naik namun hanya menyentuh Rp 558,1 triliun. Sedangkan dalam outlook 2025, pemerintah membutuhkan pembiayaan mencapai Rp 775,9 triliun.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Rahayu Subekti
Editor: Yuliawati

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...