Pidato Prabowo di PBB Dinilai Bisa Dongkrak Investasi dan Pembiayaan Hijau

Rahayu Subekti
19 September 2025, 16:19
Prabowo
ANTARA FOTO/Muhammad Adimaj
Presiden Prabowo Subianto memimpin acara pelantikan Menteri dan Wakil Menteri Negara Kabinet Merah Putih Dalam Sisa Masa Jabatan Periode Tahun 2024-2029 di Istana Negara, Jakarta, Rabu (17/9/2025). Presiden Prabowo Subianto melantik sejumlah pejabat pemerintahan di antaranya Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Djamari Chaniago, Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir, Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor, Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki, Wakil Menteri Koperasi Faridah Faridjah,
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Presiden Prabowo Subianto akan berpidato dalam Sidang Majelis Umum perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-80 di New York, Amerika Serikat pada 23 September 2025. Banyak ekonom menilai kehadiran Indonesia di forum internasional ini bisa membuka peluang ekonomi baru.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad menilai keuntungan ekonomi bagi Indonesia dari Sidang Umum PBB tidak akan dirasakan secara langsung. Namun Prabowo bisa memanfaatkan momentum tersebut untuk mendorong kembali investasi di Indonesia.

“Prabowo bisa membuat keyakinan para kepala negara lain plus investor yang hadir bahwa Indonesia adalah negara yang aman buat investasi. Terutama usai proses demokrasi politik yang terganggu akhir-akhir ini,” kata Tauhid kepada Katadata.co.id, Jumat (19/9).

Terlebih, kondisi global saat ini turut dipengaruhi oleh kebijakan tarif perdagangan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Tauhid menilai, Prabowo perlu menunjukkan kesiapan Indonesia di kancah global dalam merespons kebijakan tarif tersebut.

 “Yang penting juga adalah tarif Trump. Kita merespon karena ini satu masalah utama besar,” ujarnya.

Menurut Tauhid, pada akhirnya negara-negara berkembang tetap akan terdampak dan dikenai tarif tinggi oleh Trump. Misalnya, Indonesia dikenakan tarif hingga 19%.

“Jadi Indonesia harus siap diri, meskipun kita tetap protes karena ini membuat instabilitas global dan ekonomi dunia yang relatif menurun dalam satu hingga dua tahun mendatang,” kata Tauhid.

Ia menambahkan, Prabowo juga perlu menunjukkan bahwa stabilitas makro Indonesia tetap terjaga di masa pemerintahannya. Dengan begitu, dunia melihat bahwa Indonesia sejalan dengan isu stabilitas makroekonomi global.

“Saya kira Indonesia akan menunjukkan perkembangan-perkembangan ekonomi ke depan,” ujar Tauhid.

Menurunkan Persepsi Risiko Investasi di Indonesia

Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi menilai Prabowo bisa memaksimalkan sesi ke-80 Majelis Umum PBB atau United Nations General Assembly (UNGA-80). Kesempatan ini bisa digunakan untuk menurunkan persepsi risiko Indonesia.

“Ini bisa membuka akses pendanaan murah bagi agenda transisi energi, infrastruktur, kesehatan, dan ketahanan pangan,” kata Syafruddin.

Menurut Syafruddin, sesi high level week Sidang Umum PBB dapat menjadi panggung diplomasi yang sarat dengan pertemuan bilateral. Ia menilai, Prabowo bisa memanfaatkan momentum ini untuk menawarkan pipeline investasi, mulai dari hilirisasi mineral hingga pengembangan kawasan industri hijau.

“Ini sekaligus menegaskan kepastian regulasi yang dicari investor global,” ujar Syafruddin.

Syafruddin menilai, kredibilitas dan eksposur positif di forum tersebut berpotensi meningkatkan selera risiko pasar terhadap Indonesia. Pada akhirnya, hal ini dapat memudahkan negosiasi pembiayaan iklim sekaligus mendorong arus modal jangka panjang.

Siapa Saja yang akan Berpidato?

Pidato di Sidang Umum PBB pada 23 September 2025 menjadi momen penting karena berisi debat umum bagi seluruh kepala negara dan pemerintahan dari 193 negara anggota.

Dikutip dari Reuters, sudah menjadi tradisi bahwa Brasil selalu menjadi negara pertama yang berpidato. Tradisi ini berawal dari masa-masa awal berdirinya PBB, ketika perwakilan Brasil selalu bersedia berbicara lebih dulu saat negara lain enggan melakukannya.

Sebagai tuan rumah markas besar PBB di New York, Amerika Serikat mendapat giliran kedua untuk menyampaikan pidato. Setelah itu, daftar pembicara disusun berdasarkan hierarki serta urutan kehadiran.

Umumnya, kepala negara berbicara lebih dahulu, kemudian disusul wakil kepala negara atau putra mahkota, kepala pemerintahan, menteri, hingga kepala delegasi berpangkat lebih rendah.

Prabowo dijadwalkan berpidato setelah Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Rahayu Subekti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...