Efektivitas Kebijakan Purbaya Disorot, Tompi Sebut Bank Lambat Turunkan Bunga

Rahayu Subekti
22 September 2025, 08:11
Purbaya
Fauza Syahputra|Katadata
Dokter bedah plastik, Tompi, menyampaikan pemaparan saat sesi wawancara dengan Katadata di T-Space Bintaro, Kota Tangerang Selatan, Banten, Sabtu (19/10/2024).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Penyanyi sekaligus dokter bedah plastik, Tompi mengkritik kebijakan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Hal ini berkaitan dengan guyuran likuiditas Rp 200 triliun yang diberikan ke Himpunan Bank Milik Negara (himbara) dan Bank Syariah Indonesia (BSI).

Melalui akun pribadinya di media sosial X, Tompi menyebut upaya tersebut tidak berpengaruh sebab perbankan masih menerapkan bunga kredit di level tinggi. “Nyaris nggak gerak dari bunga lama,” tulis Tompi pada Sabtu (20/9).

Ia meragukan kebijakan pemerintah tersebut karena tidak akan maksimal. Sebab, jika bunga kredit perbankan masih tinggi tidak akan membuat banyak orang untuk mengajukan pinjaman dan pada akhirnya tidak signifikan menggerakan ekonomi.

“Gimana nih Pak Menkeu? Kalau masih tinggi begini, dana itu akan ngendap saja di bank. Bukankah niatnya menggerakkan ekonomi?” tulis Tompi.

Sebelumnya Purbaya mengaku tidak khawatir menggelontorkan uang negara untuk ditempatkan di perbankan saat ekonomi lesu. Pemerintah menempatkan masing-masing Rp 55 triliun untuk Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Negara Indonesia (BNI). Lalu juga Rp 25 triliun di Bank Tabungan Negara (BTN). 

Pemerintah juga menyalurkan likuiditas di bank syariah yakni Bank Syariah Indonesia (BSI) sebesar Rp 10 triliun. Purbaya yakin dalam kondisi saat ini kredit akan tumbuh. 

“Jadi orang pernah bilang juga seperti itu bahwa kredit nggak akan naik kalau ekonominya nggak maju, gitu kan? Sudah pernah kita balik. Kita kasih uang banyak, kredit tumbuh juga,” kata Purbaya saat ditemui di Gedung DPR, Kamis (11/9).

Purbaya menjelaskan, jika bank diberikan likuiditas lebih maka akan ada cost of capital atau biaya riil yang harus dibayar untuk menggunakan dana modal dari berbagai sumber pendanaan. Bank akan rugi jika tidak menyalurkan kredit. “Dia akan terpaksa menyalurkan dalam bentuk kredit,” ujar Purbaya.

Purbaya menganalogikan kucuran uang negara yang dipindahkan dari Bank Indonesia ke perbankan ini seperti bahan bakar. Menurutnya, hal itu bisa membuat market mechanism berjalan sehingga bank harus menyalurkan likuiditasnya.

Bank Lambat Pangkas Bunga Pinjaman

Di tengah langkah  pemerintah menempatkan uang negara di perbankan, Bank Indonesia (BI) juga sudah memangkas suku bunga acuannya lima kali pada tahun ini yaitu pada Januari, Mei, Juli, Agustus, dan September. Penurunan terakhir sebesar 25 basis poin menjadi 4,75% pada September 2025.

Namun, Gubernur BI Perry Warjiyo menilai penurunan suku bunga perbankan masih berjalan lambat. “Karenanya ini perlu dipercepat,” kata Perry dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulanan BI, Rabu (17/9).

Perry menjelaskan suku bunga deposito satu bulan hanya turun 16 bps dari 4,81% pada awal 2025 menjadi 4,65% pada Agustus 2025. Salah satu penyebabnya adalah pemberian special rate kepada deposan besar yang mencapai 25% dari total dana pihak ketiga (DPK) bank.

Adapun penurunan suku bunga kredit perbankan berjalan lebih lambat lagi, yakni hanya 7 bps dari 9,20% pada awal 2025 menjadi 9,13% pada Agustus 2025. “Bank Indonesia memandang suku bunga deposito dan kredit perbankan perlu segera turun,” ujar Perry. 

Menurut Perry, percepatan penurunan bunga perbankan dapat meningkatkan penyaluran kredit atau pembiayaan. Hal ini menjadi bagian dari upaya bersama mendorong pertumbuhan ekonomi sejalan dengan Program Asta Cita pemerintah.



Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Rahayu Subekti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...