Guyur Likuiditas ke BPD, Purbaya Tunggu Kesiapan Bank Jakarta dan Bank Jatim

Rahayu Subekti
14 Oktober 2025, 18:20
Purbaya
ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/nym.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (kanan) bersama Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara (kiri) menyampaikan paparan pada konferensi pers APBN KiTa edisi Oktober 2025 di Jakarta, Selasa (14/10/2025). Menteri Keuangan melaporkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 mengalami defisit sebesar Rp371,5 triliun atau 1,56 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) per 30 September 2025.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) berencana memperluas penempatan dana pemerintah ke bank pembangunan daerah (BPD). Saat ini, Kemenkeu tengah melakukan asesmen terhadap dua BPD, yakni Bank Jakarta dan Bank Jawa Timur (Bank Jatim).

“Jadi kami masih melakukan assessment terhadap dua BPD tersebut. Setelah itu, kami akan melaporkan hasilnya ke Bapak Menteri, baru nanti bisa dilaksanakan,” ujar Direktur Jenderal Perbendaharaan Kemenkeu Astera Primanto Bhakti dalam konferensi pers APBN KiTa, Selasa (14/10).

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa penempatan dana pemerintah di BPD belum direalisasikan. Saat ini, pemerintah baru menempatkan dana sekitar Rp200 triliun di Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).“Realisasinya belum karena kami menunggu kesiapan BPD-nya sendiri,” kata Purbaya.

Sebelum menyalurkan dana tersebut, Kemenkeu akan menilai kemampuan kedua BPD dalam menyalurkan dana pemerintah agar dapat terserap secara optimal. “Jadi kita lihat seberapa sanggup mereka menyalurkan, karena yang di Himbara juga belum semuanya terserap,” ujarnya.

Kemenkeu Siap Tarik Dana Menganggur di BI

Sebelumnya, Purbaya menyatakan kesiapannya untuk menarik dana pemerintah yang menganggur di Bank Indonesia (BI). Hingga September 2025, Kemenkeu telah menarik sekitar Rp200 triliun dari BI untuk ditempatkan di perbankan nasional.

Dana tersebut masing-masing sebesar Rp55 triliun ditempatkan di Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia (BRI), dan Bank Negara Indonesia (BNI). Selain itu, Bank Tabungan Negara (BTN) mendapat Rp25 triliun, dan Bank Syariah Indonesia (BSI) Rp10 triliun.

Sisa dana yang masih mengendap di BI diperkirakan sekitar Rp275 triliun. “Kan naik turun terus, ada pengeluaran dan ada pajak. Ya kira-kira yang di Bank Sentral itu geser-geser. Tapi yang pasti saya punya sekitar Rp200 triliun di sana,” ujar Purbaya di Hotel Shangri-La, Rabu (8/10).

Dengan ruang fiskal yang masih cukup besar, pemerintah memiliki peluang untuk menyalurkan likuiditas ke bank daerah hingga puluhan triliun rupiah. Namun, Purbaya menekankan bahwa dana tersebut harus benar-benar disalurkan ke sektor riil agar memberi dampak nyata terhadap pertumbuhan ekonomi.

“Dalam waktu dekat nanti jumlahnya akan saya hitung. Tapi kalau Rp10 triliun hingga Rp20 triliun bisa kali ya untuk diserap (Bank DKI dan Bank Jatim),” ujar Purbaya di Balai Kota Jakarta, Selasa (7/10).

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Rahayu Subekti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...