Purbaya: SBY Tidur Saja Ekonomi RI Tumbuh 6%, Jokowi Buat Infrastruktur Cuma 5%
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membandingkan pertumbuhan ekonomi pada era pemerintahan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).
Purbaya menilai pertumbuhan ekonomi pada era SBY mampu mencetak angka 6% meski pembangunannya tak seagresif pemerintahan Jokowi. Sementara pada era Jokowi, pertumbuhan ekonomi rata-rata 5%.
Meski pemerintahan SBY lebih santai dalam pembangunan, ekonomi justru tumbuh lebih tinggi dibanding era Jokowi yang sibuk membangun infrastruktur. Menurut Purbaya, saat era SBY, sektor privat hidup sehingga ekonomi tumbuh 6%.
"Saya kasih tahu ke Pak Jokowi waktu itu, kenapa Pak SBY tidur saja pertumbuhan 6%? Tapi Bapak (Jokowi) bangun infrastruktur di mana-mana, pertumbuhan cuma 5%," kata Purbaya di Jakarta dalam kegiatan bertajuk “1 tahun Prabowo-Gibran: Optimism 8% Economic Growth” di Jakarta, Kamis (16/10).
Purbaya mengatakan bahwa pada zaman Jokowi, sektor privat hampir tidak tumbuh karena terhambat, sementara sektor pemerintahan tetap berjalan. Ia menilai, akibat kondisi ini, selama 20 tahun terakhir ekonomi Indonesia berjalan pincang.
Dengan posisi sebagai Menteri Keuangan saat ini, Purbaya berniat menggerakkan kedua sektor secara bersamaan dan membidik pertumbuhan ekonomi pada level 6%.
Penjelasan Ekonom
Pertumbuhan ekonomi era Jokowi lebih lambat karena tidak lepas dari dampak pandemi Covid-19 yang berlangsung sejak 2020. Produksi Domestik Bruto (PDB) bahkan sempat anjlok di level 2,1% dan kembali tumbuh 3,69% pada 2021.
Jokowi berhasil membalikkan keadaan karena gencar mendorong program pengendalian Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dengan menggelontorkan biaya kesehatan khusus Covid-19 serta bantuan perlindungan sosial untuk menjaga daya beli masyarakat.
Pada era SBY sebetulnya juga melewati guncangan besar akibat krisis keuangan global 2008. Namun saat itu, perekonomian Indonesia tak banyak terpengaruh. Ekonomi hanya melambat dengan pertumbuhan masih di atas 4% pada 2009.
Sebelumnya, Ekonom INDEF Tauhid Ahmad menyebut pertumbuhan lebih lambat di era Jokowi seiring de-industrialisasi yang berjalan semakin cepat. Sumbangan sektor manufaktur ke perekonomian Indonesia terus menyusut dibandingkan era SBY.
"Ini makin kelihatan, sejak makin banyaknya perjanjian dagang yang kemudian menyebabkan bea impor 0%, walhasil industri di lama kelamaan tidak bisa bersaing dengan produk impor," kata Tauhid.
Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal juga menyebut sumbangan sektor manufaktur di era Jokowi semakin menyusut dibandingkan era SBY. Padahal sektor ini cukup vital bagi perekonomian.
Menurut Faisal, pertumbuhan kuat di sektor manufaktur menjadi kunci dibalik kesuksesan beberapa negara maju di Asia seperti Jepang dan Korea Selatan.
"Namun memang akhir-akhir ini di penghujung masa Presiden Jokowi mendorong adanya hilirisasi, ini sebetulnya salah satu upaya mendorong pertumbuhan sektor manufaktur," kata Faisal.
