Ekonomi Thailand Diramal Bangkit Awal 2026, Utang Rumah Tangga Masih Jadi Beban

Ferrika Lukmana Sari
28 Oktober 2025, 15:16
Thailand
Katadata
Bendera Thailand
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Bank Sentral Thailand memperkirakan perekonomian negara itu akan mulai membaik pada kuartal pertama 2026, setelah mengalami perlambatan pada paruh kedua tahun 2025. Hal ini disampaikan Gubernur Bank of Thailand (BoT) Vitai Ratanakorn dalam sebuah seminar bisnis, Selasa (28/10).

“Tahun ini mungkin bukan tahun yang baik bagi ekonomi. Perlambatan akan dimulai pada kuartal ketiga dan keempat, sebelum membaik pada kuartal pertama tahun depan," ujar Vitai dikutip dari Reuters, Selasa (28/10).

Menurut Vitai, ekonomi Thailand tumbuh sekitar 3% secara tahunan pada paruh pertama 2025, didorong oleh ekspor yang dipercepat di awal tahun. Namun, pertumbuhan diperkirakan melambat pada paruh kedua akibat lemahnya konsumsi domestik, penguatan baht, dan dampak tarif impor Amerika Serikat.

Bank sentral memperkirakan pertumbuhan ekonomi Thailand tahun ini hanya akan mencapai 2,2%, turun dari 2,5% tahun lalu, dan melambat lagi menjadi 1,6% pada 2026.

Fokus pada Utang Rumah Tangga

Vitai menyoroti bahwa tingginya utang rumah tangga menjadi salah satu hambatan utama pertumbuhan ekonomi. Rasio utang rumah tangga terhadap produk domestik bruto (PDB) mencapai 86,8% pada akhir Juni 2025, salah satu yang tertinggi di Asia, dengan total utang mencapai 16,3 triliun baht atau sekitar US$497,7 miliar.

“Kalau kita tidak segera dan serius menangani utang rumah tangga, setiap upaya mendorong pertumbuhan PDB akan terus terhambat,” kata Vitai.

Pemerintah Thailand saat ini sedang menyelesaikan paket kebijakan untuk membantu debitur kecil dengan utang di bawah 100.000 baht (sekitar Rp49 juta). Program ini diperkirakan dapat membantu sekitar 2 juta orang, dan rencananya akan diumumkan dalam satu hingga dua minggu ke depan.

Selain itu, pemerintah juga menyiapkan anggaran 10 miliar baht (US$305 juta) bulan ini untuk membeli kredit bermasalah (bad debt).

NPL Belum Masuk Tahap Krisis

Vitai menambahkan bahwa rasio kredit macet (non-performing loan/NPL) di perbankan Thailand saat ini masih sekitar 3% dari total pinjaman, angka yang tinggi tetapi belum mencapai tingkat krisis.

Untuk mempercepat penanganan kredit bermasalah, BoT akan menerbitkan aturan baru yang memungkinkan lembaga keuangan mendirikan perusahaan manajemen aset (asset management company/AMC) bersama perusahaan yang sudah ada.

“Saat ini ada sekitar 90 perusahaan manajemen aset di seluruh negeri, dan hanya sekitar setengahnya yang aktif beroperasi,” ujar Vitai.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ferrika Lukmana Sari

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...