Rupiah Berpotensi Melemah di Tengah Kekhawatiran Defisit Fiskal Melebar
Nilai tukar rupiah diprediksi akan melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini. Pelemahan rupiah ini bisa terjadi di tengah kekhawatiran defisit fiskal Indonesia yang bisa melebar.
“Defisit fiskal domestik di November 2025 yang mencapai 2,35% dari GDP, sehingga ada kekhawatiran melewati angka 2,70% di akhir 2025,” kata Senior Economist KB Valbury Sekuritas Fikri C. Permana kepada Katadata.co.id, Senin (22/12).
Fikri mengatakan, saat ini tren kenaikan yield US Treasury juga sedang terjadi. Hal ini bisa membuat rupiah juga ikut tertekan dikarenakan faktor global. “Kemungkinan rupiah terdepresiasi ke angka Rp 16.770 per dolar AS,” ujar Fikri.
Berdasarkan data Bloomberg pagi ini, rupiah dibuka pada level Rp 16.754 per dolar AS. Level ini melemah empat poin atau 0,02% dari penutupan sebelumnya.
Di sisi lain, Analis Doo Financial Futures Lukman Leong memproyeksikan rupiah masih akan berkonsolidasi dengan potensi menguat terbatas.
Lukman menjelaskan, penguatan rupiah yang terbatas ini didukung oleh sentimen risk on di tengah minimnya data-data ekonomi di penghujung tahun. Sentimen risk on diperkirakan tidak akan banyak menguatkan rupiah.
“Hal ini mengingat sentimen negatif domestik dari prospek pemangkasan suku bunga Bank Indonesia,” kata Lukman.
Lukman memperkirakan rupiah akan berada di level Rp 16.650 per dolar AS hingga Rp 16.750 per dolar AS.
