Trump Buka Penyelidikan Terhadap Powell, Rupiah Berpeluang Menguat

Rahayu Subekti
12 Januari 2026, 09:34
Petugas menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar AS di gerai penukaran mata uang asing Dolarindo, Melawai, Jakarta, Senin (15/9/2025). Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan hari Senin (15/9) di Jakarta melemah sebesar 33,50 poin atau 0,20 persen
ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/sg
Petugas menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar AS di gerai penukaran mata uang asing Dolarindo, Melawai, Jakarta, Senin (15/9/2025). Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan hari Senin (15/9) di Jakarta melemah sebesar 33,50 poin atau 0,20 persen menjadi Rp16.408 per dolar Amerika Serikat (AS) dari sebelumnya Rp16.375 per dolar AS.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Nilai tukar rupiah berpeluang menguat terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini (12/2). Penguatan ini didukung oleh Kabar Jaksa Federal Amerika Serikat (AS) yang membuka penyelidikan pidana terhadap Ketua The Fed Jerome Powell.

“Trump membuka penyelidikan kriminal atas Powell, ini membuat indeks dolar AS turun cukup tajam sehingga rupiah berpotensi menguat,” kata Analis Doo Financial Futures Lukman Leong kepada Katadata.co.id, Senin (12/2).

Namun, Lukman mengatakan indeks dolar AS juga masih fluktuatif. Sementara di sisi domestik, Lukman mengatakan investor juga menantikan data penjualan ritel Indonesia pada hari ini.

“Rupiah diperkirakan akan berada di level Rp 16.750 per dolar AS hingga Rp 16.900 per dolar AS,” ujarnya.

Meski diprediksi menguat, nilai tukar rupiah pada pagi ini masih dibuka melemah. Berdasarkan data Bloomberg pagi ini, rupiah dibuka pada level Rp 16.840 per dolar AS yang turun 21 poin atau 0,12% dari penutupan sebelumnya.

Senada, Senior Economist KB Valbury Sekuritas Fikri C Permana juga memproyeksikan hal yang sama. “Kemungkinan ada apresiasi rupiah ke level Rp 16.800 per dolar AS,” kata Fikri.

Fikri mengungkapkan saat ini ekspektasi penurunan suku bunga acuan The Fed makin terbuka lebih dari dua kali 25 basis poin pada 2026. Selain itu juga membaiknya data penjualan mobil dan motor domestik AS pada akhir 2025.

Sementara di sisi domestik, Fikri menyebut ekspektasi masuknya dana Asing di Surat Berharga Negara (SBN) makin positif. “Hal ini seiring dengan front loading (strategi penerbitan SBN secara masif di awal tahun) yang kemungkinan dilakukan pemerintah,” ujar Fikri. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Rahayu Subekti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...