Mengapa Rupiah Tak Bangkit saat IHSG Tembus 9.000?

Rahayu Subekti
14 Januari 2026, 12:07
Rupiah, dolar as, ihsg
Katadata/Fauza Syahputra
Ilustrasi.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Nilai tukar rupiah masih berpotensi melemah terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini, meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencetak rekor tertinggi atau All Time High di level 9.038. Kurs rupiah menguat tipis 0,07% di level 16.865 per dolar AS hingga perdagangan siang ini, Rabu (14/7).

Apa sebenarnya yang menjadi penyebab rupiah melemah?

Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan pelemahan rupiah ini imbas dari sikap Federal Reserve (The Fed) yang hawkish atau lebih ketat.“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS yang menguat. Indeks dolar AS rebound kuat oleh pernyataan hawkish Gubernur The Fed St Louis Musalem,” kata Lukman kepada Katadata.co.id, Rabu (14/1).  

Musalem mengatakan, ekonomi AS kemungkinan akan tumbuh di atas potensinya pada tahun ini. Hal ini didukung oleh dukungan fiskal dan efek tertunda dari penurunan suku bunga sebelumnya. Namun, inflasi masih mendekati level 3% sepanjang 2026.

Namun dengan pelemahan rupiah yang berkelanjutan belakangan ini dan semakin mendekati 17 ribu per dolar AS, Lukman memperkirakan Bank Indonesia akan melakukan intervensi.

“Rupiah akan berada di level 16.800 per dolar AS hingga 16.950 per dolar AS,” ujarnya.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah pada pagi ini berada di level 16.873 per dolar AS, menguat empat poin dibandingkan penutupan sebelumnya. Kurs rupiah pun bergerak menguat tipis pagi ini ke level 16.863 per dolar AS.

Di sisi lain, Senior Economist KB Valbury Sekuritas Fikri C. Permana menilai rupiah masih punya peluang menguat. “Kemungkinan rupiah berbalik apresiasi ke level 16.820 per dolar AS,” kata Fikri.

Fikri menyebut penguatan rupiah ini didukung oleh hasil lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dengan incoming bids yang cukup baik. Selanjutnya net buy asing di pasar saham juga masih berlanjut sehingga bisa mendukung rupiah.

 

IHSG Cetak Rekor 9.030

IHSG kembali menembus rekor baru di level 9.030 pada perdagangan intraday hari ini, Rabu (14/1). Berdasarkan data Stockbit hingga penutupan sesi I hari ini, transaksi perdagangan saham mencapai 37,9 miliar dengan nilai mencapai Rp 16 triliun. 

Rekor IHSG, antara lain ditopang oleh lonjakan saham-saham emiten tambang emas. Harga saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) melonjak 5,41% ke level 4.090, PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) melesat 11,11% ke level 1.950, dan  Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) naik 4,89% ke level 5.900.

Adapun transaksi saham di dalam negeri saat ini ditopang oleh investor domestik yang rata-rata kini mencapai di atas 70% dari total transaksi saham. 

 

Intervensi Bank Indonesia 

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia (BI) Erwin G. Hutapea menjelaskan, melemahnya rupiah dan sejumlah mata uang global lainnya saat ini dipengaruhi oleh meningkatnya tekanan di pasar keuangan dunia. Namun, ia memastikan BI akan konsisten menjaga stabilitas nilai tukar sehingga dapat menjaga stabilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi. 

“Tekanan tersebut bersumber dari eskalasi tensi geopolitik, kekhawatiran terhadap independensi bank sentral di sejumlah negara maju, serta ketidakpastian arah kebijakan moneter The Fed ke depan, di tengah kebutuhan valuta asing domestik yang meningkat pada awal tahun,” kata Erwin dalam pernyataan tertulisnya, Rabu (14/1). 

Meskipun demikian, Erwin mengatakan pelemahan rupiah tersebut masih sejalan dengan pergerakan nilai tukar regional yang juga terdampak sentimen global. Hal ini antara lain Won Korea yang melemah sebesar 2,46% dan Peso Filipina sebesar 1,04%.

Ia pun memastikan  nilai tukar rupiah akan tetap terjaga berkat konsistensi kebijakan stabilisasi Bank Indonesia yang terus dilakukan secara berkesinambungan melalui intervensi NDF di pasar off-shore di kawasan Asia, Eropa, dan Amerika. Selain itu, BI juga melakukan intervensi di pasar domestik melalui transaksi spot, DNDF, dan pembelian SBN di pasar sekunder. 

Menurut Erwin, ketahanan eksternal juga tetap baik tecermin pada posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Desember 2025 yang tercatat sebesar US$ 156,5 miliar atau setara dengan 6,4 bulan impor. “Ini memadai sebagai buffer dalam menghadapi tekanan pasar keuangan global,” ujar Erwin.

Bank Indonesia akan terus berada di pasar untuk memastikan nilai tukar rupiah bergerak sesuai dengan nilai fundamental dan mekanisme pasar yang sehat. Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan instrumen operasi moneter pro-market guna memperkuat efektivitas transmisi kebijakan moneter dan menjaga kecukupan likuiditas. 

“Dengan begitu dapat mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dengan tetap mencapai sasaran inflasi serta menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” kata Erwin. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Rahayu Subekti
Editor: Agustiyanti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...