Thomas Djiwandono Ungkap 5 Strategi saat Fit and Proper Test Deputi Gubernur BI

Ade Rosman
26 Januari 2026, 18:28
Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono mengikuti uji kelayakan dan kepatutan calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) di ruang Komisi XI DPR, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (26/1/2026). Thomas Djiwandono merupakan satu dari tiga nama calon
Katadata/Fauza Syahputra
Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono mengikuti uji kelayakan dan kepatutan calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) di ruang Komisi XI DPR, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (26/1/2026). Thomas Djiwandono merupakan satu dari tiga nama calon Deputi Gubernur BI yang diusulkan Presiden Prabowo Subianto untuk menggantikan Anggota Dewan Gubernur BI Juda Agung yang mundur dari jabatannya.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Thomas Djiwandono menawarkan lima strategi saat mengikuti uji kelayakan dan kepatutan atau fit and proper test di Komisi IX DPR, Senin (26/1). 

Dalam tes ini, Thomas menyampaikan lima strategi yang disebutnya untuk menjaga stabilitas keuangan dan akselerasi sinergi fiskal moneter, di tengah ketidakpastian. 

Gagasan tersebut ia beri nama "BI GERAK". Dalam hal ini, B adalah akronim dari bersinergi dengan stakeholder membangun Indonesia, dan I singkatan dari independensi. Ia menegaskan, dalam menjalankan kebijakan, BI tetap Independen. 

“Ada lima strategi tematik yang saya ingin cetuskan pertama adalah kebijakan pemerintah yang kuat dan kredibel, kedua adalah efektivitas kebijakan, ketiga adalah resiliensi sistem keuangan, keempat adalah akselerasi sinergi fiskal moneter dan sektor keuangan, terakhir adalah keberlanjutan transformasi keuangan,” kata Thomas dalam paparannya. 

Ia lantas menjelaskan makna dari akronim "GERAK". G adalah governance atau pemerintah, dalam hal ini yang menjadi fondasi dalam membuat kebijakan. Lalu, E merupakan representasi dari efektivitas kebijakan untuk stabilitas dan pertumbuhan ekonomi.

Sementara R adalah resiliensi sistem keuangan dan pasar keuangan untuk financial security.

“Target jangka panjang pendalaman sektor keuangan harus ditopang oleh penguatan intermediasi sektor keuangan, penguatan basis pendanaan dan peran industri keuangan non bank (IKNB) dan inklusi keuangan,” ucapnya.

Kemudian, A adalah akselerasi sinergi fiskal dan moneter sektor keuangan. Menurut Thomas, terdapat tiga kunci, yakni kebijakan fiskal moneter dari sinkronisasi suku bunga, likuiditas, dan pembiayaan APBN; koordinasi pengelolaan utang dan pasar SBN, serta; penguatan peran KKSK melalui joint assesment risiko sistematik, protokol respons kritis terpadu dan simulasi penanganan krisis, serta kebijakan pembiayaan pembangunan.

Selanjutnya, K dalam GERAK berarti keberlanjutan dengan program kunci yakni implementasi UU P2SK, transformasi digital keuangan dan inklusi dan literasi keuangan.

“Sinergi ini sebenarnya sudah terbangun, namun bisa dikuatkan lagi. Di sini BI memberikan kebijakan makroprudensial lebih ekspansif yang mendukung ekonomi. Kemenkeu terus meningkatkan produktivitas kas negara, OJK melakukan insentif bagi perbankan, dan LOS menciptakan kepercayaan nasabah melalui stabilitas sistem keuangan,” kata Thomas.

Thomas memperebutkan kursi deputi gubernur Bank Indonesia bersama Dicky kartikoyono dan Solikin M Juhro, untuk menggantikan Juda Agung yang mundur dari jabatan tersebut.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ade Rosman
Editor: Ahmad Islamy

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...