Rupiah Menguat di Tengah Kabar Cina Minta Perusahaan Keuangan Lepas Obligasi AS
Nilai tukar rupiah menguat o,15% ke level 16.779 per dolar AS pada perdagangan pagi ini, Selasa (10/2). Kurs rupiah menguat di tengah laporan bahwa pemerintah Cina menyarankan lembaga keuangannya mengurangi kepemilikan di obligasi Amerika Serikat.
"Namun, penguatan mungkin akan terbatas, dengan investor menantikan data penting domesik yaitu penjualan ritel Indonesia untuk Desember," ujar Analis Doo Financial Futures Lukman Leong kepada Katadata.co.id.
Ia memperkirakan, rupiah hari ini akan bergerak pada kisaran 16.750 hingga 16.900 per dolar AS.
Mengutip data Bloomberg, rupiah dibuka menguat dua poin di level 16.803 per dolar AS. Rupiah pun bergerak semakin menguat ke level 16.779 per dolar AS hingga pukul 09.45 WIB.
Mayoritas mata uang Asia juga menguat terhadap dolar AS. Yuan Cina menguat 0,15%, ringgit Malaysia 0,24%, baht Thailand 0,13%, won Korea Selatan 0,18%, dolar Taiwan 0,11%, dan yen Jepang 0,19%.
Pengamat pasar uang Ibrahim juga memperkirakan, rupiah akan ditutup menguat setelah bergerak berfluktuasi hari ini. Kurs akan bergerak dalam rentang 16.760-16.800 per dolar AS.
Adapun kurs rupiah pada perdagangan kemarin ditutup menguat 80 poin di level 16.805 per dolar AS. Rupiah menguat seiring ketidakpastian yang mereda usai Amerika Serikat dan Iran sepakat untuk melanjutkan pembicaraan nuklir tidak langsung.
Selain itu, ada sentimen positif dari domestik, yakni data Indeks Keyakinan Konsumen yang menunjukkan perbaikan, yakni naik dari 123,5 pada Desember 2025 menjadi 127 pada Januari 2027. Level ini merupakan yang tertinggi dalam setahun terakhir.
