Pemerintah Targetkan Ekspor 90% Produk RI ke Eropa Bebas Tarif Mulai 2027

Image title
10 Februari 2026, 16:40
ekspor, impor, tarif ekspor,
ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/Spt.
Ilustrasi.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Pemerintah Indonesia menargetkan hampir 90% produk ekspor Indonesia dapat menikmati tarif nol persen saat masuk pasar Uni Eropa melalui implementasi kesepakatan dagang Indonesia–European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA/IAU-SEPA). Perjanjian perdagangan bebas ini ditargetkan berlaku pada awal 2027. 

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, langkah tersebut merupakan bagian dari strategi agresif Indonesia dalam memperkuat posisi perdagangan global dan memperluas akses pasar ekspor nasional. 

“Kami berharap implementasi perjanjian dengan Uni Eropa pada awal 2027 memungkinkan hampir 90% produk Indonesia memperoleh tarif nol persen di 27 negara Uni Eropa,” ujar Airlangga dalam acara China Conference: Southeast Asia (CCSEA) 2026, Selasa (10/2). 

Menurut dia, pelonggaran tarif ini akan meningkatkan daya saing produk Indonesia sekaligus mendorong diversifikasi pasar ekspor di tengah ketidakpastian ekonomi global. Ia memastikan Indonesia terus aktif memperluas jaringan kerja sama dagang melalui berbagai forum internasional, seperti ASEAN, APEC, G20, dan COP.

Saat ini, menurut di, Indonesia juga telah menandatangani Indonesia–Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (SEPA) yang memberikan preferensi tarif 0% bagi lebih dari 90% ekspor kedua negara. 

Tak hanya itu, pemerintah juga melakukan penyesuaian kebijakan tarif dengan Amerika Serikat. Tarif impor dari Negeri Paman Sam telah diturunkan dari 32% menjadi 19%.

 “Indonesia juga telah menurunkan tarif impor dari Amerika Serikat dari 32% menjadi 19% dan tengah mendorong penyelesaian perjanjian dagang lebih lanjut,” katanya.

Di sisi lain, Indonesia tengah mendorong proses aksesi ke Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD). Keanggotaan penuh ditargetkan dapat diraih dalam dua hingga tiga tahun ke depan.

Airlangga menilai, langkah ini penting untuk memperkuat reformasi struktural, meningkatkan daya saing, serta membantu Indonesia keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah.

“Berbagai perjanjian dan kerja sama ini menjadi strategi untuk membuka pasar lebih luas, menarik investasi, dan mempercepat transformasi ekonomi nasional,” katanya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nuzulia Nur Rahmah
Editor: Agustiyanti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...