Rupiah Melemah Dekati 17.000 Per Dolar AS Jelang Pengumuman Suku Bunga BI

Image title
19 Februari 2026, 09:38
Rupiah Menguat Terhadap Dolar
ANTARA
Rupiah Menguat Terhadap Dolar
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Nilai tukar rupiah melemah hampir mendekati 17.000 per dolar AS pada perdagangan pagi ini, Kamis (19/2). Kurs rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dolar AS didukung oleh faktor global dan prospek kebijakan BI pada siang ini.

 “Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dolar AS yang menguat cukup besar," ujar Analis Doo Financial Lukman Leong kepada Katadata, Kamis (19/2).

Berdasarkan Bloomberg, kurs rupiah dibuka melemah 41 poin ke level 16.884 per dolar AS. Rupiah pun bergerak kian melemah ke level 16.925 per dolar AS hingga pukul 09.10 WIB.  

Pada penutupan perdagangan hari sebelumnya, dolar berada di level Rp 16.837. Kemudian langsung dibuka melemah pada perdagangan pagi ini, dolar AS dibuka di level Rp 16.931.

Lukman mengatakan, pelemahan ini terjadi setelah data-data ekonomi seperti perumahan, manufaktur dan penjualan barang tahan lama yang lebih kuat dari perkiraan Di samping itu ia juga mengatakan, The Fed yang bernada hawkish dalam risalah pertemuan FOMC juga semakin melejitkan dolar AS. 

Sedangkan dari sisi domestik, dia menyebut investor justru mengantisipasi kemungkinan sikap dovish dari BI yang akan digelar dalam rapat dewan gubernur sore ini.

Dipengaruhi Konflik AS-Iran

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan kurs rupiah seiring sikap skeptis pasar terhadap perundingan Iran dengan AS.

“Walaupun Iran dan AS mencapai kesepahaman pada hari Selasa (17/2) mengenai 'prinsip-prinsip panduan' utama dalam pembicaraan yang bertujuan untuk menyelesaikan perselisihan nuklir mereka yang telah berlangsung lama, tetapi itu tidak berarti kesepakatan akan segera tercapai, kata Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi,” ungkapnya dikutip dari Antara.

Proses perundingan antara kedua negara tersebut dipantau ketat oleh pasar energi karena Iran adalah produsen minyak utama dan terletak di sepanjang Selat Hormuz yang sangat penting secara strategis, yakni jalur air sempit yang dilalui sekitar seperlima konsumsi minyak global setiap harinya.

Risiko militer disebut tetap tinggi pasca laporan pada Senin (16/2) bahwa Garda Revolusi Iran melancarkan latihan di Selat Hormuz, karena pasukan AS tetap ditempatkan secara besar-besaran di seluruh Timur Tengah.

Sentimen lainnya berasal dari sikap hati-hati investor jelang rilis risalah pertemuan kebijakan Federal Reserve (The Fed) pada bulan Januari yang dapat memberikan wawasan baru tentang potensi pelonggaran moneter.

“Investor juga menunggu laporan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) AS untuk bulan Desember, yang akan dirilis pada hari Jumat, indikator inflasi pilihan Fed yang dapat membentuk ekspektasi suku bunga,” kata Ibrahim.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nuzulia Nur Rahmah

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...