BI: Lonjakan Inflasi Tahunan Februari Harus Dibaca Cermat
Bank Indonesia (BI) menilai lonjakan inflasi tahunan (year-on-year/yoy) menjadi 4,76% pada Februari 2026 perlu dibaca secara cermat. Inflasi tahunan pada bulan lalu ini merupakan yang tertinggi sejak April 2023.
Deputi Gubernur BI, Aida S. Budiman, mengatakan kenaikan terutama dipengaruhi faktor administered prices atau harga yang diatur pemerintah. Inflasi dipengaruhi efek basis (base effect) dari kebijakan diskon harga pada awal 2025.
Pada Januari hingga Maret 2025, kelompok administered prices mengalami deflasi cukup dalam akibat pemberian diskon tarif. Pada Februari 2025, kelompok ini tercatat minus 9,02%.
“Sekarang angkanya 12,64%. Jadi memang ada efek basis yang membuat inflasi terlihat tinggi,” ujarnya dalam talkshow “Ramadan Tenang Harga Terkendali, Senin (2/3).
Namun demikian, menurut dia, sisi inflasi inti (core inflation) yang mencerminkan tekanan permintaan masih terjaga. BI mencatat inflasi inti berada di level 2,63% atau masih dalam kisaran sasaran.
“Kalau kita bicara core inflation yang melihat bagaimana demand, itu angkanya masih cukup terjaga,” kata Aida.
Menurutnya, tekanan inflasi yang relatif tinggi masih berpotensi terlihat pada rilis berikutnya, tetapi setelah itu akan kembali stabil. BI sendiri tetap memperkirakan inflasi 2026 berada dalam target 2,5% plus minus 1%.
