Inflasi Maret Berpotensi Masih Tinggi Imbas Lebaran
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, inflasi tahunan pada Februari 2026 mencapai 4,76% secara tahunan. Ekonom Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Nailul Huda, memperkirakan inflasi tahunan pada bulan ini masih akan tinggi karena faktor Ramadan dan Lebaran.
“Bulan Maret 2026 nampaknya masih akan tinggi karena efek Lebaran. April tampaknya sudah mulai melandai inflasinya, atau bahkan terjadi deflasi,” katanya saat dihubungi Katadata, Selasa (3/3).
Namun, ia mengingatkan bahwa deflasi pada periode April–Juni justru perlu diwaspadai. “Ketika April–Juni deflasi, bisa jadi ada hal yang tidak beres terkait daya beli masyarakat,” katanya.
Menurut dia, penurunan harga bukan semata kabar baik, melainkan bisa mencerminkan lemahnya konsumsi domestik.
Huda menjelaskan, terdapat dua kelompok utama yang mendorong inflasi Februari tetap tinggi. Pertama, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga, khususnya tarif listrik.
Kenaikan tajam secara tahunan terjadi karena efek basis rendah pada awal 2025, saat pemerintah memberikan subsidi tarif listrik sehingga indeks harga konsumen (IHK) tarif listrik sangat rendah. Ketika subsidi tidak lagi berlaku pada Januari–Februari 2026, inflasi terlihat melonjak.
“Maka salah satu penybabnya memang di administered price,” ujarnya.
Kedua, kelompok makanan dan bahan makanan yang terdorong peningkatan permintaan selama Ramadan. Selain faktor musiman, menurut dia, terdapat tambahan permintaan untuk beberapa komoditas terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG). Komoditas seperti daging ayam dan telur ayam tercatat mengalami kenaikan harga.
Ia mengingatkan, tanpa persiapan pasokan yang matang, tekanan inflasi pada kelompok barang bergejolak (volatile food) dapat semakin tinggi menjelang Lebaran.
“Jika tanpa persiapan yang matang, bisa terjadi inflasi yang cukup tinggi di kelompok barang bergejolak ketika menjelang lebaran,” ujarnya.
