Perdagangan Pertanian RI–Vietnam Tembus US$14 Miliar, Masih Berpotensi Meningkat
Perdagangan bilateral antara Indonesia dengan Vietnam di sektor pertanian mencapai lebih dari US$14 miliar. Kerja sama sektor pertanian antara kedua negara ini dinilai semakin penting dan berpeluang meningkat di tengah tantangan global terhadap sistem pangan, mulai dari perubahan iklim hingga gangguan rantai pasok.
Head of Animal Health and Livestock Equipment Japfa Comfeed Indonesia Teguh Yodiantara Prajitno, mengatakan kemitraan strategis antara Indonesia dan Vietnam dapat memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan. Kedua negara memiliki kekuatan yang saling melengkapi, mulai dari sumber daya, kapasitas industri, hingga pasar domestik yang terus berkembang.
Di Vietnam, sektor pertanian berkontribusi sekitar 16–18% terhadap produk domestik bruto (PDB), sedangkan kontribusi di Indonesia mncapai 14–15%.
“Dengan integrasi rantai pasok di sektor pertanian, kedua negara dapat menciptakan sinergi ekonomi yang lebih besar,” ujar Teguh dalam acara Indonesia–Vietnam Friendship Association, Selasa (10/3).
Ia menilai hubungan bilateral Indonesia dan Vietnam bukan sekadar kerja sama biasa, reapi bagian penting dari pertumbuhan jangka panjang kawasan ASEAN. Karena itu, percepatan investasi dan kolaborasi sektor swasta dinilai penting untuk mengubah potensi menjadi kemajuan nyata.
“Fondasi kerja sama sudah kuat. Yang diperlukan sekarang adalah mempercepat investasi lintas negara, memperkuat kepercayaan dunia usaha, dan mendorong kolaborasi yang lebih dalam antara sektor swasta,” katanya.
Teguh juga meningkatkan, ketahanan pangan menjadi salah satu tantangan global saat ini. Variabilitas iklim, risiko penyakit, gangguan logistik, serta pertumbuhan populasi terus membentuk ulang sistem pangan dunia.
Bagi negara seperti Indonesia dan Vietnam yang sektor pertaniannya berkontribusi besar terhadap perekonomian, ketersediaan protein menjadi faktor kunci. Karena itu, penguatan kapasitas produksi domestik dinilai harus menjadi prioritas.
Ia juga menjelaskan bahwa Japfa telah beroperasi di Vietnam sejak 1996 dengan fokus pada produksi berbagai sumber protein, mulai dari produksi pakan, pembibitan, hingga sektor komersial.
Pada 2024, grup perusahaan tersebut menginvestasikan sekitar US$32 juta untuk membangun pabrik vaksin veteriner berteknologi mutakhir di Vietnam. Investasi ini diharapkan memperkuat sektor peternakan dan kesehatan hewan yang berperan penting dalam menjaga stabilitas pasokan protein serta mendukung ekonomi pedesaan.
Teguh menilai kolaborasi Indonesia dan Vietnam dalam sistem kesehatan hewan, standar biosekuriti, pengembangan vaksin, serta teknologi peternakan berpotensi besar meningkatkan stabilitas pangan regional.
“Kerja sama ini tidak hanya soal produksi, tetapi juga keberlanjutan, keterlacakan, dan ketahanan jangka panjang sistem pangan,” ujarnya.
Ia menilai, penyediaan protein hewani yang aman dan terjangkau akan menjadi fondasi penting bagi pembangunan pedesaan serta stabilitas sosial dan ekonomi.
Namun, menurutnya, pencapaian ketahanan pangan tidak bisa hanya bergantung pada kebijakan pemerintah. Dibutuhkan inovasi, investasi jangka panjang, serta kolaborasi industri lintas negara.
“Dengan dukungan pemerintah dan partisipasi aktif sektor industri, kemitraan Indonesia dan Vietnam berpotensi berkembang menjadi salah satu hubungan bilateral paling penting di Asia,” kata Teguh.
