Rupiah Dibuka Melemah Usai Pemimpin Iran Umumkan Selat Hormuz Masih Ditutup
Nilai tukar rupiah melemah 0,13% menjadi Rp 16.919 per dolar Amerika Serikat, menurut data Bloomberg pada Jumat pagi (13/3). Meski begitu, mata uang Garuda bergerak naik tipis 0,1% menjadi Rp 16.910 per dolar AS hingga pukul 09.15 WIB.
Analis memperkirakan nilai tukar rupiah melemah sepanjang hari ini, karena pemimpin Iran yang baru Mojtaba Khamenei, mengatakan pada Kamis (12/3) waktu setempat bahwa Selat Hormuz tetap akan ditutup.
Penutupan Selat Hormuz, jalur utama ekspor minyak, akan membuat harga minyak melonjak lagi. “Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS ke kisaran Rp 16.850 – Rp 16.950,” kata Analis Doo Financial Lukman Leong kepada Katadata.co.id, Kamis (12/3).
Mojtaba Khamenei mengatakan penutupan jalur maritim Selat Hormuz harus dilanjutkan sebagai alat untuk menekan musuh. Ini merupakan pernyataan publik pertama Mojtaba Khamenei sejak diangkat.
"Semua pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah harus segera ditutup dan pangkalan-pangkalan itu akan diserang," ujar Khamenei dalam komentar yang disiarkan televisi dan diterjemahkan oleh Reuters.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pun memperingatkan dunia untuk memperkirakan harga minyak akan mencapai US$ 200 per barel karena Selat Hormuz tetap tertutup. Lebih dari 20% minyak dunia melewati selat ini.
Mantan ekonom Dana Moneter Internasional atau IMF Olivier Blanchard mengatakan defisit pasokan, dikombinasikan dengan elastisitas permintaan minyak yang sangat rendah, menandakan harga minyak dunia bisa mendekati US$ 150 atau US$ 200 per barel, atau bahkan lebih tinggi, daripada level saat ini sekitar US$ 100.
“Menurut saya, sulit untuk tidak membayangkan skenario utama di mana harga minyak akan tetap sangat tinggi untuk waktu yang lama, lebih tinggi dari harga pasar saat ini," tulis Blanchard, dikutip dari Business Insider, Jumat (13/3).
Ada dua alasan utama di balik pemikiran itu. Pertama, melindungi kapal sepenuhnya di Selat Hormuz hampir mustahil, dan tidak ada alasan bagi Iran untuk berhenti mengancam kapal di Selat tersebut.
Poin kedua, memperkuat gagasan bahwa pasar tidak dapat lagi bergantung pada perdagangan TACO, karena Presiden AS Donald Trump tidak dapat begitu saja memutuskan sendiri bagaimana konflik tersebut akhirnya berakhir.
TACO, yang merupakan singkatan dari Trump always chickens out, menggambarkan gagasan bahwa presiden cenderung mengubah arah atau menarik kembali kebijakan yang mengganggu pasar, seperti ancamannya terhadap Greenland dan pembicaraan tentang tarif.
"Tidak ada alasan, terlepas dari apakah Trump menyatakan perang telah berakhir atau tidak, untuk berpikir bahwa Iran tidak akan terus mengancam untuk menghancurkan kapal-kapal yang mencoba melawan," kata Blanchard.
Hal senada disampaikan Marko Kolanovic, mantan kepala analis kuantitatif di JPMorgan. "Tidak ada solusi TACO Trump untuk Wall Street, karena harga minyak melonjak akibat perang," ujar dia. Hal itu merujuk pada pernyataan Donald Trump yang mengatakan perang akan segera berakhir, namun Iran ternyata terus membalas serangan.
Dengan harga minyak dunia yang melonjak, nilai tukar rupiah berpotensi melemah. Sebab, kenaikan harga minyak bisa membebani APBN.

