Pemerintah Efisiensi Anggaran Imbas Perang Iran, Termasuk MBG?
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pemerintah tengah mengkaji pemotongan anggaran belanja Kementerian/Lembaga. Hal ini dilakukan guna mengantisipasi kenaikan harga minyak sebagai dampak dari perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran.
“Kalau memang harga BBM naik terus, itu langkah pertama, efisiensi. Kami sudah persiapkan langkah-langkah yang diperlukan oleh lembaga nanti,” kata Purbaya usai rapat koordinasi terbatas di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat, Senin (16/3).
Purbaya telah menginstruksikan kepada Kementerian/Lembaga untuk menyiapkan gambaran jika anggarannya dipotong. Meski tak merincikan secara detail, ia menyebut salah satu pos anggaran yang terkena potongan yakni berkaitan dengan program tambahan yang menggunakan anggaran belanja tambahan (ABT).
“Ada beberapa program tambahan, ada anggaran tambahan-tambahan yang membuat gegelembung sekali. Dengan anggaran sekarang, kami fokus ke program yang sudah ada saja,” katanya.
Sejumlah anggaran belanja tambahan, menurut dia, akan ditunda hingga situasi memungkinkan. Adapun pihaknya akan menyusun langkah awal bagi K/L untuk menghitung efisiensi anggaran yang akan dilakukan. Kementerian/Lembaga kemudian akan menyesuaikan berdasarkan kebijakan yang telah dibuat dari Kementerian Keuangan.
Adapun salah satu anggaran yang berpotensi diefisiensikan adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG). “Saya pikir gitu. Enggak harus Rp 335 triliun,” kata dia.
Namun, Purbaya sebelumnya menekankan, bahwa anggaran yang berpotensi dipangkas adalah yang tak terkait langsung dengan makanan. Ia sebelumnya mencontohkan, pemangkasan anggaran dapat dilakukan untuk belanja alat kerja, seperti motor hingga komputer.
Di sisi lain, Purbaya menyatakan kondisi perekonomian Indonesia masih bagus dan jauh dari krisis. Namun, langkah ini diperlukan untuk membuat eksekusi dari tiap program berjalan efektif.
“Indikator krisis itu kalau untuk saya ya, ekonomi sudah resesi. Terus global juga resesi semua. Enggak ada cara lain untuk memperbaiki ekonomi. Atau semua cara memperbaiki ekonomi itu tidak bisa membalik ke arah pertumbuhan ekonomi, kecuali ada stimulus tambahan di perekonomian,” katanya.
Sementara itu, untuk menaikkan pendapatan negara, Purbaya mengatakan salah satunya dengan gencar menggalakkan pajak.
Ia mengklaim, pada Januari-Februari 2026, pendapatan dari pajak tumbuh 30%.
“Dari angka itu kalau anda lihat, angka pertumbuhan PPN sama PPN-BM itu 95% dibanding dua bulan pertama tahun lalu (2025),” katanya.
