Ekonom Nilai WFH Sehari dalam Sepekan Berpotensi Tak Efektif Tekan Konsumsi BBM

Image title
25 Maret 2026, 09:40
wfh, bbm, subsidi
ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/foc.
Deretan gedung perkantoran di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Jumat (2/7/2021). Foto: Antara
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Rencana pemerintah menerapkan kebijakan work from home (WFH) satu hari dalam sepekan dinilai belum tentu efektif menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM). Ekonom menganggap rencana tersebut justru berpotensi memperberat beban subsidi energi di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Ekonom Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda, menilai lonjakan harga minyak global akibat konflik di Timur Tengah berisiko langsung meningkatkan beban subsidi BBM pemerintah.

“Sudah pasti akan membuat harga BBM membengkak sehingga beban subsidi juga akan meningkat. Masalahnya, penerimaan negara sedang cekak, sementara ada program prioritas dengan biaya besar,” ujar Huda kepada Katadata.co.id, Rabu (25/3).

 Ia memperingatkan, kondisi tersebut dapat mendorong defisit anggaran melebar signifikan, bahkan berpotensi melampaui batas yang diatur undang-undang. Jika itu terjadi, pemerintah akan semakin bergantung pada pembiayaan utang.

 “Secara keuangan negara, tidak akan sustain dan justru memperburuk kondisi fiskal kita yang tengah tertekan,” katanya.

 Pemerintah sebelumnya berencana menerapkan WFH satu hari per minggu bagi aparatur sipil negara (ASN) dan pekerja swasta usai Lebaran, sebagai bagian dari upaya efisiensi konsumsi BBM di tengah lonjakan harga minyak dunia.

Namun, Huda menilai kebijakan tersebut tidak serta-merta menurunkan konsumsi energi. Menurutnya, pengurangan mobilitas harian justru berpotensi digantikan oleh konsumsi energi dalam bentuk lain.

“Karena hanya mengalihkan konsumsi ke energi lainnya. Bahkan bisa jadi ada aktivitas lain seperti pulang kampung atau liburan yang tetap menggunakan BBM,” ujarnya.

Ia mengatakan bahwa tanpa perubahan perilaku yang lebih mendasar, kebijakan ini berisiko tidak memberikan dampak signifikan terhadap penghematan energi.

Sebagai alternatif, Huda menyarankan pemerintah mendorong penggunaan transportasi publik secara lebih tegas, terutama bagi aparatur negara. "Setiap hari PNS dan pejabat seharusnya menggunakan angkutan umum, tidak menggunakan mobil pribadi atau fasilitas kantor,” katanya.

Harga minyak dunia melonjak tajam akibat penutupan Selat Hormuz di tengah konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Harga minyak Brent sempat menyentuh di atas US$100 per barel, bahkan mencapai sekitar US$112 per barel pada Maret 2026.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nuzulia Nur Rahmah

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...