Minat Investasi Jepang di Indonesia Tinggi Meski Ada Gejolak Geopolitik Global
Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani menyebut minat investasi Jepang di Indonesia tetap tinggi di tengah situasi gejolak geopolitik dan geoekonomi global saat ini.
Hal itu disampaikan Rosan usai penandatanganan kerja sama ekonomi senilai US$ 23,1 miliar atau setara Rp 392,7 triliun dalam Indonesia-Japan Business Forum di Tokyo, pada Senin (30/3). Menurut Rosan, kerja sama ini menunjukkan tingkat kepercayaan Jepang yang masih besar terhadap Indonesia.
“Terlepas dari ada geopolitik yang sedang berada di dunia ini, kepercayaan internasional terutama Jepang itu tetap besar dan mereka commit untuk menjalankan investasi yang ada di Indonesia ke depannya,” kata Rosan, dalam keterangannya, Selasa (31/3).
Ia berpandangan, kerja sama ini juga menegaskan posisi Jepang sebagai salah satu dari lima negara dengan kontribusi terbesar terhadap realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) di Indonesia.
Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi, realisasi PMA Jepang tercatat sebesar US$ 3,1 miliar (Rp 53,2 triliun, kurs Rp 17.010 per dolar AS) sepanjang 2025. Data ini menunjukkan Jepang menjadi kontributor PMA terbesar kelima di Indonesia pada tahun lalu.
“Ini membuktikan kepercayaan internasional dalam hal ini Jepang, baik oleh pemerintah Jepang maupun para pengusaha Jepang, terhadap Indonesia itu tetap besar,” katanya.
Kerja Sama Pertamina-INPEX Catat Nilai Terbesar
Rosan menuturkan, kerja sama ini sebagian besar yakni senilai US$ 20,9 miliar atau Rp 355,45 triliun, berasal dari kerja sama PT Pertamina (Persero) dengan perusahaan migas Jepang, INPEX, dalam pengembangan Lapangan Gas Abadi di Blok Masela.
Ada pula sejumlah kesepakatan investasi lain, yakni kerja sama antara SMBC Aviation Capital dan Danantara senilai senilai US$ 800 juta atau Rp 13,6 triliun. Kemudian, pendanaan pegadaian dari Sumitomo Mitsui Banking Corporation senilai Rp 5 triliun untuk mendukung inklusi keuangan dan pengembangan ekosistem emas.
Selain itu, ada juga kerja sama di sektor kecantikan dan estetika antara perusahaan Jepang 2Way World dan mitra Indonesia senilai US$ 500 juta atau Rp 8,5 triliun, serta investasi ke sejumlah proyek panas bumi.
“Memang untuk energi baru terbarukan, Jepang memiliki appetite yang sangat-sangat besar,” kata Rosan.
Di sisi lain, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, perjanjian ini merupakan langkah konkret menuju pembangunan kemitraan yang lebih kuat, tak hanya untuk Indonesia dan Jepang, namun untuk kawasan Indo-Pasifik.
“Indonesia percaya bahwa masa depan kemitraan ini terletak pada bekerja, berinovasi, dan bertumbuh bersama, sehingga dapat membentuk masa depan yang penuh kemakmuran bersama, tak hanya untuk kedua negara, tetapi juga untuk kawasan Indo-Pasifik,” kata Airlangga dalam keterangannya, Selasa (31/3).
Ia mengatakan, kedepannya, kerja sama Indonesia dan Jepang diharapkan bisa melampaui kerja sama ekonomi tradisional dan beralih menuju penciptaan solusi masa depan secara bersama.
Hal ini, kata dia, dapat diwujudkan melalui tiga area utama kerja sama, yaitu transisi energi dan pertumbuhan hijau, transformasi industri dan hilirisasi, serta memperkuat rantai pasok global.
Pada kesempatan yang sama, Prabowo menyampaikan investasi Jepang dinilai memiliki kualitas tinggi dengan karakter disiplin, penguasaan teknologi, serta komitmen jangka panjang.
“Jepang membawa kualitas dalam investasi, disiplin, teknologi, dan komitmen jangka panjang. Itulah sebabnya investasi Jepang dihormati, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di seluruh dunia dan secara pribadi saya sangat menghargai hubungan ini,” katanya.
