Bank Dunia Pangkas Prospek Ekonomi RI, Makin Jauh dari Target Purbaya
Bank Dunia memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari sebelumnya sebesar 4,8% menjadi 4,7%. Proyeksi ini semakin jauh dari target Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang masih optimistis mampu mencapai pertumbuhan ekonomi mendekati 6% pada tahun ini.
Proyeksi terbaru Bank Dunia ini termuat dalam laporan East Asia and Pacific Economic Update edisi April 2026 yang dirilis pada Rabu (9/4). Meski lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya, angka pertumbuhan ekonomi Indonesia ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata proyeksi pertumbuhan kawasan Asia Timur dan Pasifik (EAP) yang hanya mencapai 4,2%.
Kawasan tersebut mencakup Asia Timur dan Pasifik mencakup Kamboja, China, Indonesia, Laos, Malaysia, Mongolia, Myanmar, Papua Nugini, Filipina, Thailand, Timor-Leste, Vietnam, dan Negara-Negara Kepulauan Pasifik. Adapun pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya lebih rendah dari Vietnam yang diproyeksi mencapai 6,3% dan Mongolia sebesar 5%,
Kepala Ekonom Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik Aaditya Mattoo mengatakan, bahwa prospek kawasan dipengaruhi tiga faktor eksternal utama: konflik di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga energi, pembatasan perdagangan di Amerika Serikat serta ketidakpastian kebijakan global, dan perkembangan positif berupa ledakan teknologi kecerdasan buatan (AI).
“Kami menilai Indonesia relatif tangguh karena ketergantungan terhadap impor minyak, misalnya, lebih rendah dibandingkan negara lain,” kata Mattoo seperti dikutip dari Antara.
Laporan tersebut mencatat impor bersih minyak dan gas Indonesia pada 2024 hanya sekitar 1% dari produk domestik bruto (PDB), sementara Thailand mencapai 7%, Filipina 3%, dan Vietnam 2%.
Meski demikian, guncangan global diyakini tetap berdampak pada Indonesia, terutama melalui kenaikan harga minyak yang menambah beban fiskal akibat subsidi dan kompensasi energi.
Tekanan inflasi dinilai berpotensi meningkat seiring kenaikan harga minyak, lonjakan harga pupuk yang mendorong biaya pangan, serta kenaikan harga semikonduktor yang berimbas pada keseluruhan rantai nilai.
Mattoo menambahkan, meningkatnya sentimen risiko global juga berpotensi menekan investasi dan konsumsi.
Kendati demikian, Bank Dunia memperkirakan Indonesia akan kembali pulih dengan pertumbuhan mencapai 5,2% pada 2027.
Pemulihan tersebut diharapkan didorong oleh beroperasinya dana kekayaan negara, Danantara, yang menyalurkan investasi lebih produktif, tersedianya lebih banyak kredit swasta melalui injeksi likuiditas, serta upaya pemerintah memperkuat industri hilir, mengatasi hambatan, dan menarik investasi asing.
Laporan juga menyoroti bahwa pertumbuhan Indonesia saat ini sekitar 5% per tahun melampaui perkiraan pertumbuhan potensial, sebagian besar berkat dukungan pemerintah.
Namun, reformasi seperti penghapusan hambatan non-tarif di sektor jasa, deregulasi, dan penyederhanaan perizinan usaha dinilai dapat meningkatkan pertumbuhan potensial sekaligus menciptakan lapangan kerja produktif.
Adapun proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 negara tetangga adalah Malaysia 4,4%, Filipina 3,7%, Thailand 1,3%, dan Vietnam 6,3%.
