Skenario Terburuk IMF soal Dampak Perang Iran: Ekonomi Dunia di Ambang Resesi

Agustiyanti
16 April 2026, 17:31
IMF, pertumbuhan ekonomi global
ANTARA FOTO/Media Center G20 Indonesia/Aditya Pradana Putra/nym.
Managing Director IMF Kristalina Georgieva (kiri).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Dana Moneter Internasional (IMF) memangkas prospek pertumbuhan ekonomi global pada tahun ini menjadi 3,1%, melambat dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 3,4% akibat  perang di Timur Tengah. IMF bahkan melihat dalam skenario terburuk jika perang berlarut-larut, ekonomi dunia dapat berada di ambang resesi. 

Para pejabat keuangan tengah berkumpul untuk pertemuan musim semi IMF dan Bank Dunia di Washington di tengah ketidakpastian besar atas konflik Timur Tengah yang melanda. IMF menyajikan tiga skenario pertumbuhan, yakni lebih lemah, lebih buruk, dan parah, tergantung pada bagaimana perang tersebut berlangsung.

Di bawah prospek terburuk IMF, ekonomi global berada di ambang resesi, dengan harga minyak rata-rata US$ 110 per barel pada tahun 2026 dan US$ 125 pada tahun 2027. Adapun IMF dalam proyeksi terbarunya memilih skenario paling moderat atau pertumbuhan yang lebih lemah dalam prakiraan referensi prospek ekonomi dunia. 

Dalam skenario tersebut. IMF  mengasumsikan perang berumur pendek dan harga minyak kembali normal pada paruh kedua tahun 2026 atau dengan rata-rata US$82 per barel. Proyeksi rata-rata harga minyak ini jauh di bawah harga acuan berjangka minyak mentah Brent pada Selasa (14/4) sekitar $96,00.

Namun hanya beberapa menit setelah merilis prospek tersebut, Kepala Ekonom IMF Pierre-Olivier Gourinchas mengatakan bahwa prospek tersebut mungkin sudah usang. Ia mengatakan kepada wartawan bahwa dengan gangguan energi yang berkelanjutan dan tidak adanya jalan yang jelas untuk mengakhiri konflik, skenario yang lebih buruk semakin mungkin terjadi. 

Pada skenario yang lebih buruk, IMF mengasumsikan rata-rata harga minyak sekitar US$100 per barel pada tahun ini atau US$ 75 pada 2027. Pertumbuhan global pun diproyeksi turun menjadi 2,5% tahun ini dari 3,4% pada tahun 2025.

"Setiap hari kita mengalami lebih banyak gangguan di sektor energi, kita semakin mendekati skenario yang lebih buruk," kata dia. 

Tanpa konflik Timur Tengah, IMF seharusnya meningkatkan prospek pertumbuhan sebesar 0,1% menjadi 3,4%. Pertumbuhan ekonomi global seharusnya ditopang berlanjutnya booming investasi teknologi, suku bunga yang lebih rendah, tarif AS yang kurang ketat, dan dukungan fiskal di beberapa negara.

IMF pada Januari memperkirakan bahwa harga minyak akan turun menjadi sekitar US$62 pada tahun 2026.

Skenario terburuk IMF mengasumsikan konflik yang berkepanjangan dan semakin dalam, serta harga minyak yang jauh lebih tinggi sehingga dapat memicu dislokasi pasar keuangan besar. Pertumbuhan ekonomi global dalam skenario ini diperkirakan hanya mencapai 2%.

"Ini berarti hampir terjadi resesi global," kata IMF.

Lembaga ini menyebut, pertumbuhan ekonomi global hanya berada di bawah level tersebut empat kali sejak tahun 1980. Dua resesi parah terakhir pada tahun 2009, setelah krisis keuangan, dan pada tahun 2020 ketika pandemi COVID-19 melanda.

Gourinchas mengatakan bahwa sejumlah negara akan mengalami resesi sepanjang tahun jika skenario terburuk terjadi. Harga minyak di level US$ 110 per barel yang diasumsikan pada skenario terburuk  akan meningkatkan ekspektasi "bahwa inflasi akan tetap ada". Hal ini dapat memicu kenaikan harga yang lebih luas dan tuntutan kenaikan upah.

“Perubahan ekspektasi inflasi tersebut akan mengharuskan bank sentral untuk mengerem dan mencoba menurunkan inflasi kembali,” katanya.

Namun, IMF mengatakan bahwa bank sentral mungkin dapat “mengabaikan” lonjakan harga energi yang berumur pendek dan mempertahankan suku bunga tetap stabil di tengah aktivitas yang lebih lemah. Hal ini akan menjadi pelonggaran moneter de facto, tetapi hanya jika ekspektasi inflasi tetap terkendali.

Inflasi global pada 2026 akan mencapai lebih dari 6% dalam skenario terburuk. Sedangkan dalam skenario pertumbuhan yang lebih lemah atau optimistis dan kini digunakan IMF. inflasi global diperkirakan mencapai 4,4%.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...