Jatim Sumbang 8,33% Ekspor RI, Tiga Besar Nasional
Provinsi Jawa Timur tercatat sebagai salah satu kontributor utama ekspor nasional. Hingga 2025, Jatim tercatat menyumbang US$ 3,69 miliar, atau sekitar 8,33% terhadap total ekspor Indonesia, menempatkannya dalam jajaran tiga besar daerah penyumbang ekspor terbesar secara nasional.
Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak mengatakan, catatan ini menunjukkan peran strategis Jatim dalam perdagangan internasional. Bahkan, jika digabung dengan provinsi lain seperti Jawa Barat dan Sulawesi Selatan, ketiganya menyumbang sekitar sepertiga ekspor nasional, yakni 31,99%.
“Jawa Timur berada di angka 8,33% kontribusi ekspor nasional. Ini menunjukkan peran besar kita dalam menopang perdagangan Indonesia,” kata Emil dalam paparannya pada acara yang digelar Kemenkeu, di Nganjuk, Jawa Timur, Kamis (16/4).
Secara nilai, ekspor Jawa Timur pada 2025 mencapai US$ 30,4 miliar. Kinerja tersebut ditopang oleh ekspor nonmigas yang tumbuh signifikan sebesar 18,17% dibandingkan tahun sebelumnya.
Sejumlah komoditas unggulan yang mendorong ekspor antara lain perhiasan, tembaga, lemak dan minyak hewan atau nabati, produk kayu, serta hasil perikanan. Selain itu, produk kimia, kertas, dan tembakau juga turut memberikan kontribusi.
Dari sisi pasar, Amerika Serikat dan Cina menjadi tujuan utama ekspor Jawa Timur, disusul Jepang, negara-negara ASEAN, serta Uni Eropa. Emil berharap berbagai perjanjian dagang, seperti Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA), dapat semakin membuka akses pasar ke Benua Biru.
Pada awal 2026 terjadi sedikit tekanan akibat dinamika gejolak global, namun kinerja ekspor Jawa Timur dinilai tetap stabil. Pada periode Januari–Februari 2026, total ekspor tercatat sebesar US$ 4,02 miliar, mengalami penurunan tipis sekitar 0,54% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Di tengah gonjang-ganjing global, penurunan kita sangat tipis. Ini menunjukkan fondasi ekspor Jawa Timur cukup kuat,” kata Emil.
Ia juga menyoroti perbaikan neraca perdagangan daerah. Jika sebelumnya Jawa Timur cenderung mencatatkan defisit karena tingginya impor bahan baku untuk industri, kini kondisi mulai berbalik dengan nilai ekspor yang lebih besar dibandingkan impor.
Di sisi lain, Emil menegaskan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus mendorong penguatan sektor industri, khususnya manufaktur dan padat karya, sebagai basis produksi ekspor.
Dukungan juga diberikan melalui pembiayaan ekspor oleh Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) serta insentif fiskal untuk menjaga daya saing pelaku usaha.
Adapun, penyumbang ekspor terbesar RI pada Januari hingga Februari 2026 yakni Jawa Barat yang menyumbang total ekspor US$ 6,45 miliar, dan berkontribusi secara nasional sekitar 14,56%.
Lalu posisi kedua yaitu Sulawesi Tengah dengan total ekspor US$ 4,03 miliar, yang berkontribusi secara nasional sekitar 9,10%.
