Rupiah Tersungkur Tembus 17.300 per Dolar AS, Apa Penyebabnya?
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menembus angka di atas 17.000. Melansir data Bloomberg, rupiah mencapai level 17.300 per US$ pada Kamis (23/4) pukul 10.33 WIB.
Pengamat ekonomi, mata uang & komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan faktor eksternal dan internal yang diduga menjadi penyebab jatuhnya nilai tukar rupiah. Ia mengatakan melemahnya rupiah ke angka di atas 17.00 ini lebih cepat dari perkiraan semula yang diprediksi di akhir April 2026.
Dari segi eksternal, kondisi ketegangan geopolitik antara Iran dengan Israel dan AS menjadi salah satu penyebabnya.
“Dalam pertemuan di minggu ini antara AS dan iran yang difasilitasi oleh pakistan, Iran tidak ikut dalam perundingan tersebut dikarenakan AS sudah menyalahi aturan dalam gencatan senjata dengan melakukan penangkapan, penguasaan terhadap kapal tanker Iran yang melewati Selat Hormuz,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Kamis (23/4).
Iran, kata dia, sudah tidak percaya lagi dengan AS dan siap untuk melakukan perang panjang.
Situasi diperkeruh dengan klaim gencatan senjata sepihak oleh AS yang menyelipkan sejumlah syarat yaitu melarang Iran mengenakan tarif untuk Selat Hormuz dan mengambil uranium lalu disimpan di AS.
“Nah dua ini yang kemungkinan besar tidak akan bisa diterima oleh Iran. Karena itu adalah salah satu hak kewajiban dari suatu negara. Sehingga Iran tidak mau diintervensi oleh amerika. Itu dari segi eksternal,” kata Ibrahim.
Di sisi lain, kenaikan harga minyal mentah yang mencapai US$ 103 per barel dan WTI crude oil US$ 98 per barel membuat defisit anggaran Indonesia kemungkinan besar akan kembali melebar.
“Karena kita melihat bahwa kebutuhan impor minyak dunia indonesia itu adalah 1,5 juta barel per hari. Dan kita harus tahu kebutuhan minyak mentah di Indonesia dalam satu hari itu adalah 2,1 juta barel per hari. Sehingga pemerintah harus menyiapkan anggaran yang cukup besar guna memenuhi kebutuhan untuk minyak tersebut,” katanya.
Faktor lainnya, karena kapal tanker Pertamina yang ada di selat Hormuz belum dapat keluar.
Di sisi lain, tambah Ibrahim, utang pemerintah saat ini mendekati jatuh tempo yang begitu besar, yang mempengaruhi kinerja dari pemerintah sendiri.
Faktor teranyar di internal yakni dampak pemerintah yang menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi namun tidak dengan BBM subsidi.
“Tidak menaikkan harga bbm subsidi ini membuat subsidi pemerintah semakin besar, sehingga harus mencari anggaran-anggaran dari tempat lain untuk membantu subsidi terhadap pertalite. Nah ini yg bisa membuat defisit anggaran kembali lagi mengalami pelebaran,” kata Ibrahim.
Di sisi lain, kata Ibrahim, Dana Moneter Internasional (IMF) telah mengingatkan agar Indonesia tidak terlalu banyak mensubsidi barang-barang karena akan membuat rupiah kembali mengalami pelemahan.
“Dan kita tahu bahwa di APBN 2026 harga minyak itu dipatok US$ 70 per barel. Batas maksimal itu adalah 92, artinya bahwa saat ini sudah di atas US$ 92 per barel ini membuat rupiah mengalami pelemahan yang cukup signifikan,” katanya.
Ibrahim juga mengatakan, pemerintah memerlukan dana besar untuk menutupi kebocoran-kebocoran, terutama di impor minyak mentah dunia.
