Terimbas Faktor Geopolitik, Rupiah Diprediksi Lanjutkan Pelemahan Hari Ini

Image title
24 April 2026, 09:35
Rupiah Melemah
ANTARA
Rupiah Melemah
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Nilai tukar rupiah diperkirakan kembali berada dalam tekanan pada perdagangan hari ini setelah sebelumnya sempat menembus level 17.300 per dolar AS. Pelemahan ini dipicu oleh kombinasi sentimen global, terutama kenaikan harga minyak mentah dan imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS).

Analis Doo Financial, Lukman Leong, menyampaikan bahwa meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga minyak dunia.

Kondisi tersebut turut memperkuat dolar AS, sehingga memberikan tekanan tambahan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

“Rupiah diperkirakan akan kembali melemah terhadap dolar AS di tengah kembali naiknya harga minyak mentah dan imbal hasil obligasi AS oleh meningkatnya ketegangan di Timur Tengah,” ujar Lukman kepada Katadata.co.id, Jumat (24/4).

 Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka di level Rp 17.280 per dolar AS menguat 0,03% atau 6 poin. Hingga pukul 09.15 WIB, Rupiah melemah tipis Rp 17.281 per dolar AS turun 0,03% atau 5 poin.

 Pada perdagangan sebelumnya rupiah tak mampu keluar dari tekanan hingga akhir perdagangan. Rupiah ditutup di level Rp 17.286 per dolar Amerika Serikat (AS) melemah 0,61% dibanding penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp 17.181 per dolar AS.

 Namun, Lukman mengatakan, perkembangan terbaru menunjukkan adanya potensi peredaan tekanan. Gencatan senjata antara Israel dan Lebanon dilaporkan diperpanjang selama tiga minggu, yang dapat membantu menenangkan pasar dan sedikit mengurangi tekanan terhadap rupiah.

Ia juga mengatakan pergerakan rupiah hari ini diproyeksikan berada dalam rentang 17.200 hingga 17.350 per dolar AS.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nuzulia Nur Rahmah

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...