Peneliti Undip–Australia Kembangkan Teknologi Desalinasi Tenaga Surya di Jepara
Peneliti dari Universitas Diponegoro I Nyoman Widiasa dan Australian National University Jeremy Smith mengembangkan teknologi desalinasi air bertenaga surya untuk menjawab krisis air bersih di wilayah pesisir utara Jawa. Riset yang didanai program KONEKSI sejak 2024 ini telah diimplementasikan di Teluk Awur, Jepara.
Teknologi tersebut mampu mengolah air laut menjadi air layak konsumsi dengan kapasitas mencapai 200 ribu liter per hari, yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan hingga sekitar 10 ribu warga.
Menurut Widiasa, pengembangan teknologi ini dilatarbelakangi oleh semakin terbatasnya sumber air tawar di wilayah Pantura akibat intrusi air laut dan banjir rob yang dipicu perubahan iklim.
“Tujuannya meningkatkan ketahanan air bersih dan air minum masyarakat pesisir yang selama ini kesulitan akses,” ujarnya saat diwawancarai Katadata, Selasa (28/4).
Dia menjelaskan, sistem ini memanfaatkan panel surya berkapasitas 40 kilowatt untuk mengoperasikan instalasi desalinasi yang membutuhkan sekitar 15 kilowatt listrik. Namun, operasional masih terbatas pada siang hari karena ketergantungan pada energi matahari.
Dari sisi teknis, air hasil olahan telah dinyatakan aman untuk dikonsumsi melalui uji laboratorium. Namun tantangan terbesar justru datang dari aspek sosial.
“Masyarakat tidak langsung percaya. Karena itu kami melibatkan tokoh publik seperti rektor dan bupati untuk menunjukkan bahwa air ini aman diminum,” kata Widiasa.
Namun seiring waktu, penerimaan masyarakat meningkat, terutama saat musim kemarau. Bahkan, tim peneliti harus mendistribusikan air menggunakan 3–4 mobil tangki per hari untuk memenuhi kebutuhan warga sekitar.
Peneliti lainnya, Jeremy Smith menilai persoalan air bersih bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di berbagai belahan dunia, termasuk Australia dan kawasan Pasifik.
“Tantangan terkait akses air dan dampak perubahan iklim bersifat global. Teknologi seperti ini bisa diterapkan di banyak tempat,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa desain teknologi dibuat fleksibel agar dapat disesuaikan dengan kebutuhan komunitas, baik dalam skala kecil maupun besar. Hal ini memungkinkan replikasi di berbagai wilayah dengan biaya lebih terjangkau.
Sejauh ini, tim peneliti telah mengembangkan sekitar 14 unit replikasi dengan kapasitas lebih kecil untuk desa-desa lain. Biaya pembangunan satu sistem utama diperkirakan mencapai 230 ribu dolar Australia atau sekitar Rp 2,3 miliar.
Ke depan, para peneliti menekankan pentingnya dukungan kebijakan pemerintah agar teknologi ini dapat diadopsi secara luas.
“Tugas kami membuktikan teknologi ini berjalan. Namun dampak besar hanya bisa tercapai jika ada dukungan kebijakan,” ujar Widiasa.
Program KONEKSI sendiri merupakan inisiatif kemitraan antara Indonesia dan Australia yang didukung oleh Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT). Program ini berfokus pada kolaborasi riset di berbagai sektor strategis seperti air, energi, pangan, kesehatan, dan pendidikan guna mendorong pembangunan berkelanjutan.
