Dua Skenario Jika Perjanjian Tarif AS-RI Berlaku, Bisa Tekan Pertumbuhan Ekonomi

Image title
29 April 2026, 15:22
tarif, perjanjian dagang, perjanjian tarif, amerika, indonesia
ANTARA FOTO/Fauzan/foc.
Ilustrasi.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Rencana penerapan tarif dalam skema Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat berpotensi meningkatkan risiko inflasi dana menekan  pertumbuhan ekonomi nasional jika diterapkan tanpa revisi. 

Guru Besar IPB Sahara mengatakan, Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam menindaklanjuti perjanjian tersebut, terutama karena waktu konfirmasi yang semakin terbatas sejak penandatanganan pada 19 Februari 2026.

“Indonesia masih menghadapi pekerjaan rumah yang besar yaitu menindaklanjuti agreement on reciprocal trade dengan Amerika Serikat,” ujarnya dalam diskusi publik bersama CORE Indonesia, Rabu (29/4).

Ia menjelaskan bahwa tarif ART akan berlaku efektif setelah 90 hari sejak kedua negara menyelesaikan seluruh prosedur hukum domestik. Hal ini membuat ruang waktu Indonesia untuk merespons semakin sempit.

Dalam kajiannya menggunakan model keseimbangan umum multi-negara GTAP, terdapat dua skenario utama yang dianalisis. Skenario pertama menunjukkan dampak paling signifikan, yakni ketika Indonesia dikenakan tarif resiprokal sebesar 15%.

 “Pada simulasi pertama, hasil perhitungan kami menunjukkan bahwa Indonesia diperkirakan mengalami kontraksi pertumbuhan ekonomi sebesar 0,4%, risiko inflasi di Indonesia juga terjadi ketika ART diimplementasikan. Dan dari sisi perdagangan, ekspor Indonesia ke dunia diperkirakan turun hingga 1,8%,” kata Sahara.

Sementara itu, skenario kedua yakni penerapan tarif unilateral oleh Amerika Serikat dengan penyesuaian tarif impor Indonesia menunjukkan dampak yang lebih moderat, meskipun arah kontraksi ekonomi tetap terjadi. 

Risiko Retalisasi Negara Lain

 Selain dampak makro, Sahara juga menyoroti potensi risiko retaliasi dari negara mitra dagang akibat komitmen pembelian dalam ART. Salah satu contohnya adalah impor daging.

“Hasil perhitungan kami juga menunjukkan bahwa apabila komitmen pembelian dalam ART diberlakukan, Indonesia berpotensi menghadapi risiko retaliasi dari negara mitra dagang lainnya,” ujarnya.

 Ia menambahkan bahwa selama ini sekitar 97% impor daging Indonesia berasal dari Australia, sementara dalam ART Indonesia diwajibkan mengimpor daging dari Amerika Serikat sekitar 50 ribu metrik ton per tahun.

Kondisi ini berpotensi memicu respons balasan dari negara pemasok utama. Risiko serupa juga diperkirakan terjadi pada komoditas lain seperti jagung, apel, beras, dan kapas.

Selain itu, Indonesia juga dinilai berisiko harus membeli komoditas dari Amerika Serikat dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan negara pemasok lain. 

“Ketika komitmen pembelian dalam ART diperlakukan, ada kecenderungan Indonesia, kita seolah-olah dipaksa untuk membeli dari Amerika Serikat dengan harga yang relatif lebih mahal,” jelasnya.

Tantangan Lain dan Rekomendasi Mitigasi

Di tengah situasi tersebut, Indonesia juga menghadapi tantangan eksternal lain, termasuk dinamika geopolitik global. 

“Perlu kami garisbawahi bahwa Indonesia saat ini menghadapi double challenges dalam konteks eksternal yaitu dinamika geopolitik akibat konflik Amerika Serikat dan Iran, dan juga kewajiban agreement on reciprocal trade,” kata Sahara.

Sebagai langkah mitigasi, ia merekomendasikan sejumlah kebijakan. Pertama, menurutnya Indonesia perlu segera memberikan konfirmasi tertulis terkait ART karena waktu yang semakin sempit tersebut.

Kedua, memanfaatkan berbagai perjanjian dagang dan diversifikasi pasar ekspor. Ketiga, penguatan ekspor bernilai tambah tinggi. Dan substitusi impor bahan baku dan penguatan industri domestik.

“Dan kemudian, kita juga perlu mengefisiensikan logistik dan energi serta penghapusan ekonomi biaya tinggi untuk menjaga daya saing ekspor. Dan tentu saja yang terakhir yang perlu kita kuatkan juga adalah nilai tukar rupiah,” katanya.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nuzulia Nur Rahmah
Editor: Agustiyanti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...