Purbaya, Bos BI, CEO Danantara Kumpul di Kantor Airlangga saat Rupiah Jeblok
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani, hingga Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi berkumpul kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian pada Selasa (5/5). Pertemuan ini berlangsung di tengah melemahnya nilai tukar rupiah yang kembali menembus level baru, Rp 17.400 per dolar AS.
“Enggak tau, saya diundang Pak Menko, kayaknya gak bahas ekonomi deh,” ujar Purbaya sebelum memasuki ruang untuk ikut rapat.
Sementara itu, Perry enggan memberikan komentar terkait kondisi rupiah usai mengikuti rapat tersebut.
Nilai tukar rupiah kian melemah dan kembali menembus level baru Rp 17.400 per dolar AS pada perdagangan hari ini, Selasa (5/5). Kurs rupiah terpantau melemah 0,22% ke level 17.432 per dolar AS hingga pukul 11.30 WIB.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset BI Erwin Gunawan Hutapea menjelaskan, pergerakan rupiah sejauh ini masih sejalan dengan tren pelemahan mata uang negara berkembang lainnya, terutama sejak konflik di Timur Tengah meningkat.
Ia memaparkan, sejumlah mata uang emerging market juga mengalami depresiasi cukup signifikan. Peso Filipina melemah 6,58%, baht Thailand 5,04%, rupee India 4,32%, peso Chile 4,24%, rupiah Indonesia 3,65%, dan won Korea Selatan 2,29%.
“Pergerakan rupiah masih sejalan dengan mayoritas mata uang emerging market lainnya,” ujarnya dalam pernyataan resmi, Selasa (5/5).
BI menilai, tekanan terhadap rupiah lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal, terutama meningkatnya ketidakpastian global yang mendorong penguatan dolar AS. Meski begitu, BI menegaskan komitmennya untuk terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dengan aktif hadir di pasar.
Erwin menjelaskan, BI akan mengoptimalkan berbagai instrumen intervensi di pasar valuta asing, mulai dari transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, hingga pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
“Bank Indonesia akan terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dalam rangka menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan nilai fundamentalnya,” kata Erwin.
