Rupiah Tutup Pekan Ini Loyo di 17.382 per Dolar AS
Nilai tukar rupiah melemah 0,28% ke level 17.382 per dolar AS pada perdagangan hari terakhir pekan ini, Jumat (8/5) dibandingkan kemarin. Adapun rupiah dalam sepekan ini terpantau melemah 45 poin dan sempat menembus level 17.400 per dolar AS.
Direktur PT Traze Andalan Futures menjelaskan, ada sejumlah faktor global dan domestik yang mempengaruhi pergerakan rupiah hari ini. Dari sisi global, para pelaku pasar masih mengamati perkembangan konflik di Timur Tengah.
AS dan Iran hampir mencapai kesepatakan sehingga mungkinkan Selat Hormuz dibuka kembali sepenuhnya. Namun, pertempuran kembali pecah antara AS dan Iran, mengancam gencatan senjata yang rapuh dan menghancurkan harapan untuk kemajuan dalam pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur transit minyak dan gas utama.
Di sisi lain, para pejabat Federal Reserve (Fed) memberikan pernyataan yang berbeda. Beth Hammack dari Fed Cleveland menyatakan bahwa suku bunga akan tetap stabil untuk beberapa waktu. Sedangkan Mary Daly dari Fed San Francisco beralih ke sikap netral hingga agresif.
Ibrahim melihat fokus pasar saat ini adalah data ketenagakerjaan AS pada April,yang akan dirilis malam nanti pukul 19.30 WIB, Para ekonom memperkirakan terjadi tambahan 62.000 pekerjaan untuk bulan April, sementara tingkat pengangguran diproyeksikan tetap stabil di 4,3%.
"Laporan ini mungkin akan menentukan langkah selanjutnya Federal Reserve (Fed) terkait kebijakan suku bunga," ujar dia dalam siaran pers, Jumat (8/5).
Adapun dari sisi domestik, menurut dia, sentimen datang dari catatan utang pemerintah yang mencapai Rp 9.920,42 triliun. Posisi utang pemerintah hingga Maret 2026 itu setara dengan 40,75% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Defisit APBN hingga Maret 2026 juta sudah mencapai Rp 240,1 triliun atau 0,93% terhadap PDB. Pembiayaan utang pun sudah terealisasi Rp 258,7 triliun atau 31,1% terhadap PDB. Penerimaan negara, khususnya perpajakan, dinilai sebagai kunci usai lembaga pemeringkat blak-blakan memberi peringatan ke Purbaya ihwal rasio pembayaran bunga utang terhadap PDB.
