BI Beberkan Penyebab Rupiah Jeblok hingga Tembus 17.500 per Dolar AS
Bank Indonesia (BI) menilai, pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi saat ini lebih banyak dipengaruhi dinamika global. Konflik antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang memicu lonjakan harga minyak dunia, serta kenaikan suku bunga AS menjadi penyebab rupiah dan mata uang berkembang lainnya melemah.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso mengatakan, tekanan terhadap mata uang dialami mayoritas mata uang negara berkembang. Sejak akhir Februari 2026 ,harga minyak dunia telah melonjak lebih dari 40%. Selain itu, kenaikan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun yang mendekati 4,5% juga ikut mendorong penguatan dolar AS terhadap mata uang global.
“Kalau kita lihat sekarang US Treasury 10 tahun sudah mendekati 4,5%. Akhir Februari masih sekitar 4%," kata Denny di kantor BI, Jakarta Pusat, Rabu (13/5).
Denny mengatakan, pelemahan mata uang juga dialami peso Filipina, baht Thailand, rupee India, rand Afrika Selatan, peso Cile hingga won Korea Selatan.
Faktor Domestik
Di sisi lain, ada pula faktor domestik yang menyebabkan pelemahan rupiah. BI mencatat adanya peningkatan permintaan dolar AS dipicu musim repatriasi dividen, pembayaran utang luar negeri, hingga kebutuhan terkait penyelenggaraan ibadah haji.
Namun demikian, Denny mengatakan, BI optimistis dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Salah satunya dengan aktif berada di pasar domestik maupun internasional.
“Begitu pasar Jakarta tutup, kita standby di pasar Eropa. Kita kemudian standby di pasar Amerika untuk menjaga bagaimana pergerakan nilai tukar rupiah,” kata dia.
BI juga menilai fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat dibanding banyak negara lain. Yang menurut Denny tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang tetap terjaga, inflasi yang stabil, serta pengelolaan utang luar negeri yang dinilai prudent.
“Oleh sebab itu kami meyakini bahwa dengan sinergi bersama BI, kementerian, dan lembaga itu mampu nanti membuat rupiah akan stabil dan juga cenderung menguat,” kata dia.
Melansir data Bloomberg, nilai tukar rupiah pada Rabu (13/5) pukul 14.20 WIB menyentuh angka 17.462 per dolar AS. Sebelumnya, nilai tukar rupiah sempat menembus 17.500 per dolar AS pada perdagangan Selasa (12/5) pagi. Ini adalah level terlemah rupiah sepanjang sejarah.

