Apa yang Terjadi Jika Rupiah Makin Loyo dan Dolar AS Tembus Rp 18.000?
Nilai tukar rupiah kian mendekati level psikologis Rp 18.000 per dolar AS. Kurs rupiah sempat menembus 17.900 per dolar AS pada perdagangan kemarin dan hari ini.
Kepala Ekonom Bank Permata Joshua Pardede mengatakan, rupiah secara teknikal berpeluang menguji 18.000 per dolar AS, terutama secara intrahari. “Jarak dari level Rp 17.900 ke Rp 18.000 per dolar AS sudah sangat tipis dan pasar sedang berada dalam kondisi sangat sensitif,” ujar Joshua kepada Katadata, Jumat (29/5).
Ia mencatat, kurs rupiah sempat melemah ke level Rp 17.887 per dolar AS pada 29 Mei 2026 setelah pasar domestik kembali buka. Rupiah juga menuju pelemahan bulanan terburuk sejak Oktober 2024 dengan penurunan hampir 3% sepanjang Mei.
Menurut Joshua, tekanan terhadap rupiah berasal dari kombinasi faktor global dan domestik. Dari eksternal, pasar masih mencermati perkembangan konflik Timur Tengah dan kepastian kesepakatan Amerika Serikat-Iran. Meski ada sinyal perpanjangan gencatan senjata 60 hari, pasar masih menunggu persetujuan Presiden AS Donald Trump.
Selain itu, penyesuaian indeks MSCI dan potensi arus keluar modal asing juga dinilai menjadi tekanan tambahan terhadap rupiah.
Di sisi lain, pengamat ekonomi dan mata uang Ibrahim Assuaibi meligat pelemahan rupiah saat ini bukan semata persoalan moneter, tetapi sudah menyentuh persoalan struktural ekonomi domestik.
“Permasalahan utama kenapa rupiah melemah ini bukan merupakan kesalahan teknis dari Bank Indonesia. Ini masalah struktural,” kata Ibrahim.
Ia menilai pelebaran defisit transaksi berjalan, kebutuhan impor energi yang besar, pembayaran dividen dalam dolar AS, hingga sentimen negatif investor terhadap pasar modal domestik menjadi penyebab utama tekanan rupiah.
Lantas apa yang akan terjadi jika rupiah terus melemah hingga tembus 18.000 per dolar AS?
1. Harga Barang Impor dan Daya Beli Tertekan
Joshua menilai, dampak paling cepat akan terasa pada kenaikan harga barang impor dan tekanan terhadap daya beli masyarakat.
Barang seperti pangan impor, obat-obatan, alat kesehatan, elektronik, bahan baku industri, pupuk, hingga komponen otomotif akan menjadi lebih mahal dalam rupiah.
“Kalau rupiah lemah berkepanjangan, kenaikan biaya akan diteruskan ke harga jual,” ujar Joshua.
Ia mengingatkan, kondisi itu bisa memperburuk daya beli masyarakat karena terjadi bersamaan dengan kenaikan bunga kredit pasca kenaikan BI Rate.
2. Tekanan terhadap APBN dan Subsidi Energi
Rupiah yang melemah membuat impor energi seperti BBM dan LPG menjadi lebih mahal. Joshua menjelaskan, pemerintah akan menghadapi dilema antara mempertahankan subsidi agar inflasi terkendali atau menaikkan harga energi dengan risiko tekanan terhadap konsumsi masyarakat.
“Rupiah lemah dapat mempersempit ruang fiskal karena pemerintah harus memilih antara menjaga daya beli atau menjaga defisit tetap kredibel,” katanya.
Ibrahim menambahkan,kondisi ini semakin berat karena asumsi APBN menggunakan kurs Rp 16.500 per dolar AS dan harga minyak sekitar US$70 per barel, sedangkan harga minyak dunia kini telah berada di atas US$ 90 per barel.
3. Biaya Utang dan Yield SBN Naik
Tekanan rupiah juga berdampak pada pasar obligasi negara. Joshua menyebut, investor akan meminta imbal hasil lebih tinggi untuk memegang aset rupiah ketika volatilitas meningkat. Yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun bahkan mendekati level 6,73%.
Jika kondisi ini berlangsung lama, biaya penerbitan utang pemerintah dapat meningkat dan memperberat pembiayaan APBN.
Ibrahim juga menyoroti meningkatnya kebutuhan pemerintah mencari utang baru untuk menutup kewajiban utang jatuh tempo.
4. Ancaman ke Dunia Usaha dan Risiko PHK
Pelemahan rupiah juga berpotensi menekan sektor riil, terutama perusahaan yang memiliki utang dolar AS atau ketergantungan impor tinggi. Sektor manufaktur, farmasi, otomotif, elektronik, petrokimia, penerbangan, logistik, hingga ritel impor disebut menjadi sektor paling rentan.
“Jika biaya naik tetapi permintaan tidak kuat, perusahaan akan menahan ekspansi, menunda investasi, atau melakukan efisiensi tenaga kerja,” kata Joshua.
Menurut dia, kondisi itu dapat membuka risiko perlambatan ekonomi hingga pemutusan hubungan kerja (PHK).
Dolar AS Tembus Rp 18.000 Tak Berarti Fundamental Ekonomi RI Runtuh
Meski tekanan rupiah meningkat, Joshua menegaskan level Rp 18.000 per dolar AS tidak otomatis menandakan fundamental ekonomi Indonesia runtuh seperti krisis 1998. Berdasarkan analisis Real Effective Exchange Rate (REER), rupiah sebenarnya sudah berada di bawah nilai wajarnya atau undervalued.
“Pelemahan rupiah saat ini lebih mencerminkan premi risiko, kepanikan pasar, kebutuhan dolar, dan tekanan sentimen, bukan semata pelemahan fundamental jangka menengah,” ujarnya.
Joshua menilai, kondisi saat ini lebih dipengaruhi arus modal, psikologi pasar, dan kredibilitas kebijakan jangka pendek dibanding kerusakan fundamental ekonomi secara menyeluruh.
Ibrahim juga mengakui pertumbuhan ekonomi Indonesia masih cukup tinggi, meski ia mengkritik lemahnya kepercayaan pasar terhadap sejumlah kebijakan pemerintah dan otoritas keuangan.
Joshua menilai, hal paling penting saat ini adalah mencegah pelemahan rupiah berubah menjadi “spiral kepercayaan”. Menurut dia, spiral tersebut bisa terjadi ketika rupiah melemah, investor keluar, yield SBN naik, biaya utang meningkat, lalu tekanan terhadap rupiah makin besar.
Untuk mencegah kondisi tersebut, ia menyarankan Bank Indonesia tetap aktif menjaga stabilitas pasar valas dan obligasi secara terukur tanpa menguras cadangan devisa berlebihan.
Selain itu, pemerintah diminta mempercepat masuknya devisa hasil ekspor, menjaga kredibilitas APBN, meningkatkan efisiensi impor energi, serta menghindari kebijakan yang memicu kekhawatiran investor.
“Komunikasi kebijakan harus sangat jelas: stabilitas rupiah bukan hanya tugas BI, tetapi juga membutuhkan disiplin fiskal, pasokan devisa, dan kepastian kebijakan sektor riil,” kata Joshua.
