Dari Peternakan di Desa, BI Jaga Stabilitas Harga Pangan Nasional
Pagi belum sepenuhnya terang saat aktivitas di kandang komunal Desa Sumbersari, Lamongan, Jawa Timur mulai berjalan. Suara sapi bersahutan, sementara para peternak sibuk menyiapkan pakan dan membersihkan kandang.
Di sudut lain, limbah ternak yang dulu kerap terbuang mulai dikumpulkan untuk diolah menjadi pupuk organik dan biogas. Bagi warga desa, peternakan yang mereka kelola tak lagi sebagai pekerjaan turun-temurun.
Usaha ternak telah menjadi sumber penghidupan yang menggerakkan ekonomi kampung. Dari kandang sederhana itu, ratusan peternak, kelompok usaha, hingga nasabah bank limbah ikut tumbuh beriringan.
Dampaknya, gejolak harga pangan bisa dikelola. Upaya menahan laju inflasi tidak hanya mengandalkan intervensi kebijakan moneter atau operasi pasar.
Kondisi itu tidak lepas dari andil Bank Indonesia (BI) dalam memperkuat ketahanan pangan dari tingkat akar rumput. Bank sentral membina kelompok tani dan peternak agar mampu meningkatkan produksi, menjaga pasokan, sekaligus menciptakan harga pangan yang lebih stabil.
Koperasi Tani Ternak Literasi pun terus berkembang dari kelompok peternak sapi sederhana menjadi ekosistem usaha terintegrasi yang menopang ekonomi masyarakat sekitar.
Bercerita kepada Katadata, Ketua Koperasi Tani Ternak Literasi, Tomi Distianto mengatakan, awalnya koperasi hanya berfokus pada budidaya sapi potong jenis limosin, simental, dan sapi lokal.
Namun, usaha tersebut kemudian berkembang menjadi model peternakan berkelanjutan yang mengintegrasikan pengolahan limbah, pertanian hortikultura, perikanan, hingga perkebunan tebu.
“Peternakan di sini bukan hanya sekadar peternakan, tetapi menjadi harapan bagi peternak di sekitar kami,” kata Tomi, Rabu (13/5).
Dari Kandang Komunal ke Ekosistem Pangan
Saat ini, koperasi tersebut mengelola sekitar 235 ekor sapi dan 70 ekor kambing domba. Dari total sapi tersebut, sekitar 70 ekor ditempatkan di kandang komunal, sementara sisanya dipelihara anggota di rumah masing-masing.
Model kandang komunal ini memungkinkan koperasi memproduksi pakan dan pupuk organik secara mandiri. Selain itu, mereka pun mengembangkan fasilitas biogas untuk mengolah limbah ternak menjadi energi alternatif.
Tidak berhenti di sana, koperasi membangun Bank Literasi (Limbah Ternak Desa Sumbersari), yakni sistem pengumpulan limbah ternak dari masyarakat sekitar. Melalui upaya ini, peternak menyetorkan kotoran ternak yang sebelumnya kerap terbuang dan menjadi sumber pencemaran lingkungan.
Limbah kemudian diolah menjadi pupuk organik bermerek Literasi yang kini dipasarkan tidak hanya di Lamongan, tetapi juga ke berbagai daerah lain di Jawa Timur.
Inisiatif tersebut ikut membuka sumber pendapatan baru bagi masyarakat. Hingga sekarang, terdapat lebih dari 250 nasabah yang tergabung dalam Bank Literasi. Sementara secara kelembagaan, koperasi memiliki 34 anggota inti dan membina enam kelompok ternak dengan total sekitar 120 petani-peternak.
Pendampingan BI, Perkuat Produktivitas Koperasi
Dalam pengembangan usaha, Tomi berujar, Bank Indonesia berperan sejak 2023 melalui program pembinaan klaster pangan. Pendampingan BI, ulasnya, tidak hanya berupa bantuan sarana, tetapi lebih besar pada penguatan kapasitas kelembagaan dan manajemen usaha.
“Kami diajari bagaimana mengelola manajemen kelompok, administrasi keuangan, dan pengembangan usaha,” imbuh Tomi.
Model pembinaan seperti yang dilakukan di Lamongan ini, merupakan bagian dari penguatan program Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) yang dijalankan BI bersama pemerintah pusat dan daerah.
Untuk memperkuat implementasi di lapangan, koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP-TPID) terus dilakukan dengan fokus yang disesuaikan terhadap tantangan musiman serta kondisi regional.
Terpisah, Deputi Gubernur BI, Aida S. Budiman menyatakan, penyelarasan tersebut sejalan dengan prioritas pemerintah, khususnya dalam menjaga produksi dan stabilitas pangan nasional.
“Implementasi programnya lebih konkret dan inklusif melalui keterlibatan kelompok tani, pelaku usaha, UMKM, dan BUMD pangan. Termasuk penguatan kelembagaan petani dan offtaker pangan daerah,” ungkap Aida, Rabu (13/5).
Melalui program Sarana Akselerasi Agribisnis Klaster atau Saka Jatim, koperasi mendapat pelatihan intensif dan berhasil meraih predikat Klaster Sapi Potong Terbaik Jawa Timur pada 2025. Prestasi tersebut membawa koperasi mewakili Jawa Timur dalam Championship Klaster Pangan tingkat nasional dan berhasil menjadi juara pertama.
Berkat capaian itu pula, koperasi memperoleh bantuan berupa satu unit kendaraan operasional dan unit gasifier biogas yang digunakan untuk mendukung pengembangan usaha kuliner serta distribusi produk.
Pengembangan usaha yang dilakukan koperasi turut berdampak pada peningkatan omzet. Jika sebelumnya pendapatan hanya mengandalkan penjualan sapi, kini koperasi memperoleh omzet lebih dari Rp50 juta per bulan dari berbagai lini usaha, mulai dari peternakan sapi dan domba, penjualan pupuk organik, warung sate, hingga layanan edukasi peternakan (edufarm).
Koperasi Literasi juga menjadi tempat pelatihan dan magang bagi siswa SMK peternakan serta mahasiswa dari berbagai universitas. Aktivitas ini, lanjut Tomi, turut membuka ruang regenerasi petani dan peternak muda yang selama ini menjadi tantangan sektor pangan nasional.
Selain memperkuat produksi pangan, pola kemitraan koperasi juga membantu memotong rantai distribusi yang selama ini dinilai terlalu panjang. Melalui skema koperasi, keuntungan usaha dapat langsung dinikmati peternak tanpa terlalu bergantung pada tengkulak atau perantara.
Koperasi menerapkan sistem bagi hasil 60:40 untuk anggota. Dalam skema tersebut, peternak memperoleh 60% keuntungan penjualan ternak, sementara koperasi mendapat 40% dengan menanggung biaya operasional seperti listrik, air, obat, hingga layanan kesehatan ternak.
Di sisi lain, keberadaan koperasi ternak binaan Bank Indonesia ini juga dinilai membantu menjaga kesinambungan pasokan pangan daerah. Ketika produksi peternak meningkat dan distribusi lebih efisien, tekanan harga pangan dapat lebih terkendali.
Model pembinaan seperti ini menjadi bagian penting dalam strategi pengendalian inflasi pangan nasional. Dengan memperkuat kapasitas petani dan peternak dari hulu, BI menjaga stabilitas harga sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis komunitas di daerah.

