Ekspor RI Naik 5,68% hingga April, Ditopang CPO dan Nikel

Ade Rosman
2 Juni 2026, 16:25
neraca dagang,
ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/wsj.
ilustrasi.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Badan Pusat Statistik mencatat, kinerja ekspor pada Januari-April 2026 naik 5,68% secara tahunan menjadi US$ 92,15 miliar. Kenaikan ini ditopang oleh meningkatnya harga komoditas seperti nikel dan minyak sawit atau CPO.

Berdasarkan data BPS, ekspor nonmigas tercatat naik 6,28% secara tahunan menjadi US$ 87,74 miliar.

Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS Pudji Ismartini menjelaskan, ekspor nonmigas tercatat naik 6,28% secara tahunan menjadi US$ 87,74 miliar. Kenaikan, terutama terjadi pada sektor industri pengolahan, seperti produk olahan nikel, minyak kelapa sawit (CPO), kimia dasar, serta semikonduktor, dan komponen elektronik.

"Ekspor sektor industri pengolahan yang naik cukup besar yaitu produk olahan nikel, minyak kelapa sawit, kimia dasar organik yang bersumber dari hasil pertanian, kimia dasar anorganik lainnya serta semikonduktor dan komponen elektronik lainnya," kata Pudji dalam konferensi pers, di Jakarta, Selasa (2/6).

Secara kumulatif, menurut dia, nilai ekspor CPO dan turunannya meningkat 16,59% pada Januari-April 2026. Sementara itu, ekspor besi dan baja yang menjadi salah satu produk utama hilirisasi nikel naik 2,54%.

Pada April 2026, kontribusi kedua komoditas tersebut terlihat semakin kuat. Ekspor kelompok lemak dan minyak hewani atau nabati (HS15), yang didominasi produk sawit, melonjak 66,59% dibandingkan April 2025 dan menjadi penyumbang terbesar kenaikan ekspor dengan andil 5,91%.

Sementara itu, ekspor nikel dan barang daripadanya atau HS75 melonjak 75,52% secara tahunan dengan andil 2,17% terhadap kenaikan total ekspor nasional.

Kiriman ke Cina Mendominasi 

Kinerja ekspor ini juga didukung oleh peningkatan permintaan dari Cina yang tetap menjadi tujuan utama ekspor Indonesia. Nilai ekspor nonmigas ke Cina mencapai US$ 22,76 miliar sepanjang Januari-April 2026 atau naik 20,58% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sekitar seperempat dari total ekspor nonmigas Indonesia ditujukan ke Cina. Adapun komoditas yang paling banyak diekspor ke Cina yakni besi dan baja dengan pangsa mencapai 25,94% dari total ekspor Indonesia ke sana.

Secara keseluruhan, tiga negara tujuan utama ekspor Indonesia yakni Cina, Amerika Serikat, dan India menyumbang 44,52% dari total ekspor nonmigas selama empat bulan pertama 2026.

BPS juga mencatat nilai ekspor Indonesia pada April 2026 mencapai US$ 25,30 miliar atau naik 21,98% dibandingkan April 2025. Data BPS menunjukka kenaikan tersebut hampir seluruhnya ditopang ekspor nonmigas yang tumbuh 23,36% menjadi US$ 24,15 miliar.

Pudji mengatakan, sektor industri pengolahan menjadi tulang punggung ekspor nasional dengan nilai mencapai US$ 20,59 miliar pada April 2026, yang mana tumbuh 29,07% secara tahunan dan menyumbang andil terbesar terhadap kenaikan ekspor nasional.

Di sisi lain, sekspor migas masih terkontraksi 8,30% secara kumulatif pada Januari-April 2026 menjadi US$4,41 miliar. Ekspor batubara juga turun 7,27% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ade Rosman
Editor: Agustiyanti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...