Inflasi Mei Melonjak, Ekonom Peringatkan Daya Beli Masyarakat Tertekan

Image title
4 Juni 2026, 10:39
inflasi, harga pangan, rupiah melemah, daya beli
ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/wsj.
Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti Widya Putri (kanan) didampingi Wakil Wali Kota Tangerang Selatan Pilar Saga Ichsan (kedua kanan) berbincang dengan pedagang sayur saat meninjau harga bahan pokok di Pasar Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Jumat (6/3/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Lonjakan inflasi Indonesia pada Mei 2026 dinilai belum sepenuhnya mencerminkan pelemahan daya beli masyarakat secara umum. Namun, para ekonom mengingatkan tekanan harga yang berasal dari sisi pasokan, perang di Timur Tengah, hingga pelemahan rupiah berpotensi memperburuk kondisi konsumsi rumah tangga dalam beberapa bulan ke depan.

Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya melaporkan inflasi tahunan Indonesia mencapai 3,08% pada Mei 2026, naik tajam dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 1,60%. 

Meski masih berada dalam rentang target Bank Indonesia (BI) sebesar 1,5% hingga 3,5%, laju kenaikan inflasi dinilai perlu diwaspadai.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan, yang perlu dicermati bukan hanya posisi inflasi yang masih dalam target BI, melainkan percepatan kenaikannya dalam setahun terakhir.

“Dalam kurun satu tahun angkanya hampir berlipat ganda. Namun, kenaikan ini tidak bisa langsung ditafsirkan sebagai tanda melemahnya daya beli masyarakat secara umum,” ujar Yusuf kepada Katadata.co.id, Kamis (4/6).

Menurut dia, tekanan inflasi saat ini lebih banyak dipicu oleh faktor pasokan dibandingkan lonjakan permintaan domestik. Pendorong utamanya berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau, terutama kenaikan harga cabai merah, minyak goreng, bawang merah, dan beras.

Selain itu, kelompok transportasi juga memberi andil melalui kenaikan harga bensin dan tarif angkutan udara. “Karakter inflasi seperti ini lebih mencerminkan gangguan atau penyesuaian di sisi pasokan yang bersifat volatil dan musiman,” katanya.

Yusuf mengatakan, indikator yang lebih relevan untuk melihat tekanan permintaan masyarakat adalah inflasi inti. Pada Mei 2026, inflasi inti tercatat sebesar 2,59% secara tahunan dan masih tergolong moderat.

“Data saat ini menunjukkan bahwa tekanan harga yang terjadi belum bersifat struktural,” ujarnya.

Meski begitu, ia mengingatkan dampak inflasi pangan tidak dirasakan secara merata. Rumah tangga berpendapatan rendah akan lebih terpukul karena sebagian besar pengeluarannya digunakan untuk kebutuhan pangan.

“Secara rata-rata inflasi memang masih terkendali, tetapi tekanan terhadap daya beli kelompok bawah kemungkinan sudah jauh lebih besar daripada yang tercermin dalam angka agregat,” katanya.

Yusuf juga menyoroti kenaikan harga emas perhiasan yang mendorong inflasi kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya hingga mencapai 10,35%. Menurut dia, kondisi itu bisa menjadi sinyal meningkatnya kehati-hatian masyarakat terhadap kondisi ekonomi.

“Dalam banyak kasus, meningkatnya permintaan terhadap emas lebih mencerminkan perilaku masyarakat yang mencari aset lindung nilai,” ujarnya.

Dampak Geopolitik Terhadap Inflasi Domestik

Ekonom CELIOS Nailul Huda menilai dampak perang di Timur Tengah yang berkepanjangan mulai nyata terasa terhadap inflasi domestik. Menurut dia, kenaikan harga pangan dan transportasi berkaitan erat dengan kenaikan biaya energi dan bahan baku global.

“Beras memang sudah diprediksi akan mengalami kenaikan akibat bahan baku pupuk yang meningkat. Sedangkan minyak goreng terkait dengan kemasan plastik yang harganya ikut naik,” kata Huda.

Ia juga menyoroti inflasi tinggi di sektor transportasi akibat kenaikan harga avtur dan bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi.

“Hal ini dapat menekan daya beli masyarakat karena inflasi yang terjadi berasal dari biaya yang meningkat. Konsumsi rumah tangga berpotensi melambat,” ujarnya.

Huda memperingatkan tekanan inflasi berpotensi semakin berat seiring pelemahan nilai tukar rupiah yang memicu imported inflation atau inflasi yang disebabkan kenaikan harga barang-barang impor.

“Pelemahan ini memicu harga barang impor lebih mahal. Biasanya transmisi ke inflasi terjadi pada bulan kedua atau ketiga pasca pelemahan signifikan,” katanya.

Menurut dia, dampak pelemahan rupiah kemungkinan mulai terlihat pada Juni atau Juli 2026.

“Siap-siap harga barang secara umum akan jadi lebih mahal,” ujarnya.

Inflasi Masih Terkendali tapi Tetap Berisiko

Yusuf memperkirakan inflasi masih akan terkendali dalam beberapa bulan mendatang, tetapi risiko kenaikannya cenderung mengarah ke atas. Ia menilai arah inflasi sangat bergantung pada kondisi pasokan pangan dan harga energi global.

“Jika produksi pertanian membaik, distribusi lancar, dan harga minyak dunia stabil, inflasi berpeluang kembali turun menuju kisaran tengah target BI menjelang akhir tahun,” katanya.

Namun, jika terjadi gangguan cuaca, kenaikan biaya logistik, atau penyesuaian harga barang dan jasa pemerintah, tekanan inflasi dinilai bisa bertahan lebih lama.

Karena itu, Yusuf menekankan tantangan utama pemerintah dan BI saat ini bukan hanya menjaga suku bunga, tetapi memastikan pasokan pangan, distribusi, dan ekspektasi inflasi masyarakat tetap terkendali.

“Sumber utama tekanan harga saat ini berasal dari sisi penawaran. Tanpa perbaikan di area tersebut, kebijakan moneter saja tidak akan cukup efektif untuk menurunkan inflasi secara berkelanjutan,” ujar Yusuf.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nuzulia Nur Rahmah

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...