Purbaya: Pedagang Tahu Tempe Sudah Terdampak Pelemahan Rupiah
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, mengaku telah menerima keluhan pedagang dan produsen tahu serta tempe yang terdampak pelemahan rupiah. Mereka harus menaikkan karena pelemahan rupiah mendorong biaya produksi.
Berdasarkan data bloomberg, nilai tukar rupiah berada di level 18.036 per dolar AS pada akhir pekan ini, melemah lebih dari 8% sepanjang tahun ini. Lemahnya rupiah ini disebut menjadi penyebab naiknya harga tahu dan tempe lantaran bahan bakunya diperoleh dari kuar negeri.
“Saya dengar penjual tempe, penjual tahu, sudah tergerus keuntungannya atau terpaksa menaikkan harga karena bahan bakunya masih diimpor, yang jelas itu akan menaikkan cost of production mereka,” kata Purbaya dalam konferensi pers di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Sabtu (6/6).
Pada kesempatan itu, Purbaya mengatakan pemerintah telah menyepakati berbagai langkah stabilisasi rupiah. Ia meyakini langkah yang diambil otoritas fiskal dan moneter dapat mendorong kembali stabilnya nilai tukar rupiah.
“Dengan nanti kebijakan lebih bagus itu, kita akan melihat rupiah yang lebih stabil sehingga para pedagang tahu, tempe, dan ibu-ibu rumah tangga juga bisa merasakan harga yang lebih baik, dan tidak terbebani lagi, beban hidupnya secara, tidak mengalami kenaikan beban hidup yang terlalu signifikan,” kata Purbaya.
Di sisi lain, Purbaya mengklaim fundamental ekonomi dalam negeri masih sangat yang baik. Ia pun akan mempererat koordinasi dengan Bank Indonesia agar kebijakan moneter dan fiskal sejalan dan berdampak pada pertumbuhan ekonomi, dan diharapkan dapat mengembalikan kepercayaan investor.
“Kalau kebijakannya sudah menyatu seperti itu, sinergi penuh, itu harusnya akan mengembalikan kepercayaan pasar ke nilai rupiah, sehingga rupiah akan meningkat secara signifikan,” kata Purbaya.
