Toman Iran Terjun Bebas, Ini Mata Uang Asia Paling Melemah di Semester I
Kurs mayoritas mata uang Asia melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada enam bulan pertama tahun ini. Lantas mata uang Asia mana saja yang mengalami pelemahan paling parah?
Merujuk pada data kurs Trading Economics per 16 Juni, Toman Iran melemah paling parah yaitu 3.171 persen dibandingkan awal tahun atau year to date. Pelemahan ekstrem ini terjadi di tengah tekanan ekonomi yang berkepanjangan, sanksi internasional, serta memanasnya perang dengan Israel dan Amerika Serikat yang semakin menekan nilai mata uang Iran.
Dampaknya terasa langsung pada biaya hidup masyarakat. Laporan Bank Sentral Iran, inflasi mencapai 77,2 persen secara tahunan pada periode 21 April 21 sampai 20 Mei, tertinggi sejak 1942. Sedangkan inflasi barang kebutuhan sehari-hari mencapai 113,8 persen dibandingkan setahun sebelumnya, yang berarti harga berbagai kebutuhan masyarakat rata-rata telah melonjak lebih dari dua kali lipat.
Di luar Iran, pelemahan mata uang di Asia berlangsung jauh lebih moderat. Rupee Sri Lanka tercatat melemah 7,78 persen, diikuti Rupiah Indonesia 6,14 persen, Rupee Nepal 6,17 persen, dan Rupee India 5,08 persen terhadap dolar AS sepanjang tahun ini.
Sebaliknya, sejumlah mata uang Asia justru berhasil menguat terhadap dolar AS. Dram Armenia menguat 10,02 persen, disusul Shekel Israel 8,72 persen, Afghani Afghanistan 4,65 persen, Tenge Kazakhstan 4 persen, dan Yuan Cina 3,1 persen.
Penguatan Shekel yang berbanding terbalik dengan Toman Iran jadi sorotan. Shekel sempat menyentuh level terkuatnya dalam 33 tahun. Penguatan dilaporkan karena kuatnya ekspor sektor teknologi dan pertahanan, penurunan premi risiko, serta derasnya arus investasi asing ke Israel.


