Rupiah Berpeluang Menguat, Pasar Tunggu Hasil FOMC dan Kepastian Damai AS-Iran

Image title
17 Juni 2026, 09:24
Rupiah
Katadata/Fauza Syahputra
Petugas menunjukkan pecahan mata uang rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran uang asing di Jakarta, Rabu (18/5/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan hari ini dengan pergerakan yang melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Rabu (17/6). Dilansir dari Bloomberg, rupiah membuka perdagangan di level Rp 17.728 per dolar AS, melemah 0,02% atau 4 poin.

Pantauan Katadata, hingga pukul 09.10 WIB, rupiah kian melemah  berada di level Rp 17.750 per dolar AS, anjlok 0,14% atau 25 poin.

Adapun pada perdagangan sebelumnya rupiah ditutup melemah di level Rp 17.725 per dolar AS pada akhir perdagangan Selasa (16/6). Nilai tukar mata uang nasional kala itu terdepresiasi 0,09% dibandingkan penutupan pasar Senin (15/6) yang ada di Rp 17.709 per dolar AS. 

Pada perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak terbatas di tengah sikap hati-hati pelaku pasar yang menanti kepastian kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran serta hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) bank sentral AS (The Fed) yang akan diumumkan nanti malam.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan, rupiah berpotensi bergerak dalam kisaran sempit dengan peluang menguat maupun melemah yang sama-sama terbatas.

“Rupiah diperkirakan akan berkonsolidasi terhadap dolar AS, dengan potensi melemah atau menguat terbatas. Investor cenderung wait and see kepastian kesepakatan AS-Iran secara resmi serta antisipasi pertemuan FOMC malam ini,” kata Lukman kepada Katadata.

Ia memperkirakan rupiah bergerak pada rentang Rp 17.700-Rp 17.800 per dolar AS.

Menurut Lukman, meski sentimen pasar global cenderung membaik seiring meningkatnya harapan perdamaian di Timur Tengah, pelaku pasar masih membutuhkan konfirmasi resmi terkait kesepakatan antara Washington dan Teheran sebelum mengambil posisi lebih agresif.

Selain itu, keputusan dan proyeksi kebijakan suku bunga Federal Reserve atau The Fed juga menjadi perhatian utama investor global karena akan menentukan arah pergerakan dolar AS dalam jangka pendek.

Sementara itu, Senior Ekonom KB Valbury Sekuritas, Fikri C Permana, memproyeksikan rupiah berpotensi melanjutkan penguatan dan kembali ke level Rp 17.680 per dolar AS.

Menurut Fikri, terdapat sejumlah sentimen positif yang mendukung mata uang Garuda, mulai dari meredanya ketegangan geopolitik hingga membaiknya selera risiko investor global. “Semoga kembali terapresiasi ke Rp 17.680 per dolar AS,” ujar Fikri.

Ia menjelaskan, optimisme pasar didorong oleh prospek perdamaian antara AS dan Iran yang berpotensi menurunkan risiko geopolitik global. Kondisi tersebut turut menekan harga energi dunia, termasuk minyak mentah, yang selama ini menjadi salah satu sumber kekhawatiran pasar.

Selain itu, investor global mulai kembali masuk ke aset berisiko atau risk on setelah ketegangan di Timur Tengah menunjukkan tanda-tanda mereda.

Fikri juga menilai langkah rasionalisasi anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu faktor yang dapat memperbaiki persepsi investor terhadap pengelolaan fiskal Indonesia.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nuzulia Nur Rahmah
Editor: Ahmad Islamy

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...