Rupiah Loyo ke 17.762 per US$, Investor Tunggu Sinyal The Fed dan Keputusan BI
Nilai tukar rupiah melemah 0,21% ke level 17.762 per dolar AS pada perdagangan hari ini, Rabu (17/7). Kurs rupiah loyo di tengah sikap pelaku pasar yang menanti keputusan kebijakan moneter bank sentral AS maupun Bank Indonesia (BI).
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, sentimen pasar, antara lain dipengaruhi menguatnya indeks dolar AS yang didorong optimisme terhadap peluang tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran guna mengakhiri konflik di Timur Tengah. Kesepakatan tersebut mencakup perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari dan membuka peluang bagi Iran untuk kembali mengekspor minyak.
“Presiden AS Donald Trump mengatakan, kesepakatan itu akan mengesampingkan senjata nuklir untuk Teheran dan seorang pejabat AS mengatakan kesepakatan itu akan memungkinkan Iran untuk menjual minyak setelah penandatanganan,” kata Ibrahim.
Meski demikian, pasar masih dibayangi ketidakpastian mengenai keberlanjutan gencatan senjata tersebut. Sejumlah insiden keamanan di kawasan, termasuk serangan pesawat nirawak di Lebanon selatan, menunjukkan situasi geopolitik masih rentan.
Selain perkembangan di Timur Tengah, fokus utama investor saat ini tertuju pada hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang akan diumumkan malam ini waktu Indonesia. Pasar memperkirakan The Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga acuannya. Namun, pelaku pasar menantikan proyeksi ekonomi terbaru dan petunjuk arah kebijakan suku bunga ke depan.
"Pasar sangat sensitif terhadap sinyal apakah para pembuat kebijakan masih melihat ruang untuk pelonggaran suku bunga pada akhir tahun ini," ujar Ibrahim.
Dari dalam negeri, perhatian investor juga tertuju pada pelaksanaan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang berlangsung pada 17-18 Juni 2026. RDG kali ini menjadi sorotan setelah BI secara mengejutkan menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50% melalui RDG mingguan pekan lalu.
Bank sentral sebelumnya telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin dalam RDG bulanan. Menurut Ibrahim, langkah agresif BI tersebut menunjukkan komitmen kuat dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang sempat mengalami tekanan cukup besar terhadap dolar AS dalam beberapa bulan terakhir.
Selain itu, pasar juga mencermati ketahanan energi nasional di tengah dinamika geopolitik Timur Tengah. Pemerintah dinilai relatif lebih siap karena tidak lagi bergantung pada impor minyak mentah dari kawasan tersebut dan telah melakukan diversifikasi sumber pasokan melalui kontrak jangka panjang dengan sejumlah negara pemasok lainnya.
“Dengan strategi tersebut, Indonesia memiliki alternatif sumber impor minyak untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri,” kata Ibrahim.
Meski demikian, pemerintah tetap mengedepankan pertimbangan harga dalam menentukan sumber pasokan minyak mentah. Pemerintah akan memilih sumber minyak yang menawarkan harga paling kompetitif guna menjaga efisiensi dan mengurangi beban fiskal negara
