Wall Street Turun Tertekan Yield Obligasi AS dan Sinyal Kenaikan Bunga The Fed

Nur Hana Putri Nabila
18 Juni 2026, 06:35
Bursa efek New York, Wall Street, the fed, obligasi AS
NYSE
Bursa efek New York atau Wall Street.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Bursa saham Amerika Serikat Wall Street ditutup di zona merah pada perdagangan Rabu (17/6). Pasar saham tertekan oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS serta meningkatnya ekspektasi bahwa The Federal Reserve masih berpeluang menaikkan suku bunga tahun ini.

Dow Jones Industrial Average turun 507,12 poin atau 0,98% ke level 51.492,55, setelah sempat mencetak rekor intraday tertinggi untuk ketiga kalinya secara beruntun. Sedangkan indeks S&P 500 terkoreksi 1,21% ke level 7.420,10 dan Nasdaq Composite melemah 1,34% ke posisi 26.021,66.

Saham-saham teknologi berkapitalisasi besar menjadi pemberat utama pergerakan pasar. Microsoft, Meta Platforms, Alphabet, dan Amazon kompak ditutup di zona merah. Sentimen investor juga tertekan oleh anjloknya saham SpaceX yang mencatat turun untuk pertama sejak melantai di bursa pada Jumat pekan lalu.

Di sisi lain, penguatan saham sektor semikonduktor seperti Intel dan Micron Technology membantu menahan penurunan indeks lebih dalam.

Adapun dalam rapat kebijakan yang berlangsung dua hari, The Fed mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5%-3,75%. Namun, ringkasan proyeksi ekonomi menunjukkan sejumlah pejabat bank sentral memperkirakan suku bunga masih berpotensi naik pada 2026. 

Median proyeksi suku bunga fed funds pada akhir tahun meningkat menjadi 3,8% dari sebelumnya 3,4% pada proyeksi Maret. Kenaikan tersebut mengindikasikan komite melihat perlunya setidaknya satu kali kenaikan suku bunga pada 2026.

Ketua The Fed Kevin Warsh mengatakan dirinya tidak ikut menyampaikan proyeksi ekonomi, sehingga menambah ketidakpastian terkait arah kebijakan moneter ke depan. Prospek suku bunga yang lebih tinggi mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Imbal hasil obligasi tenor dua tahun melonjak lebih dari 16 basis poin menjadi 4,216% setelah pengumuman hasil rapat The Fed.

Kepala Ekonom New Century Advisors, Claudia Sahm, mengatakan lesunya saham pasar dipicu proyeksi suku bunga The Fed atau dot plot yang dinilai jauh lebih hawkish dibandingkan ekspektasi investor.

“Reaksi pasar saat ini sebagian besar dipicu oleh dot plot yang jauh lebih hawkish. Kondisi inflasi telah berubah drastis,” ujar Sahm, dikutip CNBC International, Kamis (18/6). 

Pelaku pasar juga mencermati pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh yang berulang kali menegaskan komitmen bank sentral terhadap stabilitas harga dalam konferensi pers usai rapat kebijakan. Sikap tersebut dinilai mengurangi harapan pasar terhadap penurunan suku bunga dalam waktu dekat.

CEO DoubleLine Capital, Jeffrey Gundlach menilai Warsh menunjukkan fokus yang kuat untuk mengendalikan inflasi. Menurutnya, pernyataan tersebut mengindikasikan The Fed tidak akan menerapkan kebijakan moneter longgar seperti yang sebelumnya diharapkan sebagian investor.

“Ini menunjukkan kita kemungkinan tidak akan melihat kebijakan moneter yang lebih longgar seperti yang diperkirakan banyak pihak pada awal tahun ketika pasar masih mengandalkan pemangkasan suku bunga,” kata Gundlach dalam program Closing Bell CNBC.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila
Editor: Agustiyanti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...