Purbaya Kembali Gelontorkan Dana ke Himbara, Total Rp 400 Triliun

Ade Rosman
26 Juni 2026, 20:19
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bersiap mengikuti rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (11/6/2026). Dalam rapat tersebut Komisi XI DPR dan pemerintah resmi menyepakati Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok
ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/sg
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bersiap mengikuti rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (11/6/2026). Dalam rapat tersebut Komisi XI DPR dan pemerintah resmi menyepakati Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) RAPBN 2027.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa kembali menggelontorkan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) milik pemerintah ke Himpunan Bank Negara (Himbara) sebesar Rp 100 triliun. 

Purbaya menjelaskan, sebelumnya dana SAL yang masih tersimpan di Bank Indonesia (BI) tercatat sebesar Rp 590 triliun, dan dianggap terlalu banyak. Sehingga, ia kembali menggelontorkan Rp 100 triliun untuk menggerakkan perekonomian. 

Pada 2025, Purbaya telah menempatkan sekitar Rp 300 triliun di Himbara, yanga mana sebagian dari itu telah ditarik kembali dalam beberapa bulan terakhir sehingga tersisa sekitar Rp 170 triliun.

Pemerintah lalu menambah penempatan dana hingga menjadi Rp 200 triliun, sebelum akhirnya menambah masing-masing Rp 100 triliun dalam dua tahap hingga akhir tahun. Dengan demikian, total dana pemerintah yang ditempatkan di Himbara sebesar Rp 400 triliun.

“Di sana sudah mulai kekeringan likuiditas. Saya bilang ke mereka, saya akan kembalikan lagi uang pemerintah ke Himbara. Bahkan saya tambah. Tadinya Rp 200 (triliun), saya tambah Rp 100 (triliun). Nanti ada yang Rp 100 triliun, Rp 75 triliun. Rp 100 triliun lebih fleksibel. Jadi akan cukup likuiditas di sektor perbankan kita,” kata Purbaya kepada wartawan di kantor Kemenkeu, Jakarta Pusat, Jumat (26/6).

Bendahara negara ini mengatakan, kembali menempatkan dana di Himbara lantaran menerima keluhan keringnya likuiditas dari bank plat merah.  Langkah ini menjadi satu-satunya mesin untuk penggerak ekonomi saat ini. 

“Dua minggu lalu saya dapat instruksi, udah mulai sedikit sedikit lah. Saya minta saya ambil tapi diisi, ternyata gak bisa ngisi. Yaudah lah udah panik, baru balik lagi ke saya. Kan ada yang bilang langkah saya salah. Ternyata itu itu satu-satunya engine untuk pertumbuhan ekonomi saat ini. Jadi kami balikkan lagi kemarin mungkin mereka belum ngerti, sekarang sudah ngerti,” kata Purbaya.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ade Rosman

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...