Defisit Migas Tembus US$ 12 Miliar hingga Mei 2026

Ade Rosman
1 Juli 2026, 12:34
neraca perdagangan, bps
ANTARA FOTO/Didik Suhartono/nym.
Ilustrasi. Neraca perdagangan Indonesia masih mencatatkan surplus secara kumulatif pada tahun ini sebesar US$ 4,03 miliar.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat defisit neraca perdagangan minyak dan gas (migas) sepanjang Januari-Mei 2026 mencapai US$ 12,28 miliar. Defisit tersebut menjadi beban pada neraca perdagangan Indonesia meski sektor nonmigas masih membukukan surplus.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menuturkan, neraca perdagangan Indonesia masih mencatatkan surplus secara kumulatif pada tahun ini sebesar US$ 4,03 miliar. Surplus tersebut sepenuhnya ditopang oleh perdagangan nonmigas sebesar US$ 16,31 miliar.

“Surplus sepanjang periode Januari-Mei 2026 ditopang oleh surplus komoditas nonmigas US$ 16,31 miliar, sementara komoditas migas masih mengalami defisit US$ 12,28 miliar,” kata Ateng dalam konferensi pers, di Jakarta, Rabu (1/7).

BPS mencatat nilai ekspor kumulatif Januari-Mei 2026 mencapai US$ 115,36 miliar atau meningkat 3,02% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan tersebut didorong oleh ekspor nonmigas yang naik 3,89% menjadi US$ 110,19 miliar.

Sementara itu, nilai impor selama lima bulan pertama tahun ini mencapai US$ 111,33 miliar atau melonjak 15,24% secara tahunan. Kenaikan impor terjadi baik pada komoditas nonmigas maupun migas.

Impor migas tercatat mencapai US$ 17,45 miliar atau meningkat 27,89% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Adapun impor nonmigas naik 13,16% menjadi US$ 93,88 miliar.

BPS mencatat, peningkatan impor nonmigas dari sisi penggunaan terjadi pada seluruh kelompok barang. Impor bahan baku dan penolong menjadi yang terbesar dengan nilai US$ 79,40 miliar atau naik 14,41%. 

Sementara itu impor barang modal meningkat 17,53% menjadi US$22,12 miliar dan impor barang konsumsi naik 17,05% menjadi US$ 9,81 miliar.

Di sisi ekspor, surplus nonmigas masih ditopang oleh sejumlah komoditas unggulan. Lima komoditas penyumbang surplus terbesar sepanjang Januari-Mei 2026 yakni lemak dan minyak hewani atau nabati sebesar US$ 13,92 miliar, bahan bakar mineral US$ 10,88 miliar, besi dan baja US$ 7,09 miliar, nikel dan barang daripadanya US$ 5,36 miliar, serta alas kaki sebesar US$ 2,72 miliar.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ade Rosman
Editor: Agustiyanti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...