Indonesia Tawarkan Kerja Sama Pangan dan Infrastruktur ke Australia

Hari Widowati
2 Juli 2026, 12:12
Indonesia, investasi, Australia
Dok. Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM
Indonesia dan Australia memperkuat kemitraan ekonomi strategis melalui penyelenggaraan Indonesia-Australia Business Summit (IABS) for Indonesia Updates 2026 di Sydney, Australia, pada 30 Juni 2026.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Indonesia dan Australia memperkuat kemitraan ekonomi strategis melalui penyelenggaraan Indonesia-Australia Business Summit (IABS) for Indonesia Updates 2026 di Sydney, Australia, pada 30 Juni 2026. Dalam forum tersebut, Indonesia menawarkan kerja sama pangan dan infrastruktur kepada investor Australia.

Forum yang mengambil tema "Financing Sustainable Growth: Strengthening Food Systems, Infrastructure, and Economic Resilience between Indonesia and Australia" ini mempertemukan para pelaku usaha, Lembaga keuangan, serta pemangku kepentingan dari kedua negara untuk mendorong kolaborasi investasi lebih erat.

Sejumlah pembicara utama dalam IABS 2026 adalah Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM Todotua Pasaribu, Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia Arif Havas Oegroseno, dan Duta Besar RI untuk Australia Siswo Pramono. Sedangkan pembicara dari Australia adalah Menteri Perindustrian dan Perdagangan New South Wales Anoulack Chanthivong.

Dalam pidatonya, Todotua Pasaribu mengatakan Indonesia memperkuat investasi sebagai mesin utama pertumbuhan nasional demi menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8% dalam agenda Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, pemerintah berfokus pada ketahanan pangan, ketahanan energi, dan hilirisasi industri. 

Pemerintah menargetkan realisasi investasi Rp 3.414 triliun pada 2029 serta membuka berbagai peluang investasi pada sektor-sektor prioritas. Sektor-sektor tersebut mencakup energi terbarukan, hilirisasi industri, ketahanan pangan, semikonduktor, manufaktur berorientasi ekspor, Kesehatan, Ibu Kota Nusantara, Pendidikan, hingga ekonomi digital. 

"Indonesia dan Australia berada pada momentum yang sangat tepat untuk memperkuat kemitraan investasi. Kedua negara memiliki ekonomi yang saling melengkapi, didukung oleh kerangka kerja sama IA-CEPA yang semakin matang," ujar Todotua.

Menurutnya, pemerintah terus mereformasi iklim investasi melalui penyederhanaan perizinan, pemberian insentif fiskal dan nonfiskal. Selain itu, pemerintah juga mengembangkan kawasan industri dan kawasan ekonomi khusus.

"Kami mengundang investor Australia untuk menjadi bagian dari babak baru pertumbuhan ekonomi Indonesia melalui investasi yang berorientasi pada hilirisasi, infrastruktur, ketahanan pangan, transisi energi, dan ekonomi hijau. 

Kerja Sama Kadin Indonesia dan ACCI

Dalam forum ini, dilakukan penandatanganan Nota Kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) antara Australian Chamber of Commerce and Industry (ACCI) dan Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia. MoU ini mencakup kerja sama di bidang perdagangan, investasi, dan pengembangan hubungan bisnis kedua negara. 

IABS juga menghadirkan presentasi korporasi yang menunjukkan tingginya minat dunia usaha untuk memperluas kolaborasi investasi yang konkret dan saling menguntungkan antara Indonesia dan Australia. 

Panel pertama bertema "Pro-Growth Economic Policy and Investment Continuity" membahas kesinambungan kebijakan pro-pertumbuhan, penguatan iklim investasi, implementasi IA-CEPA, serta peluang memperluas investasi Australia di berbagai sector strategis Indonesia. Panel ini menampilkan CEO Austrade Dr. Paul Grimes, Australia's Special Envoy for Southeast Asia Nicholas Moore AO, Direktur Indonesia Investment Promotion Centre (IIPC) Sydney Leidy Surianingrat, dan Wakil Ketua Umum Bidang Hubungan Internasional Kadin Indonesia Bernardino M. Vega. 

Panel kedua "Financing Food Systems and Infrastructure-Enabled Growth" menghadirkan CEO ACCI Andrew McKellar, Presiden Direktur Indonesia Infrastructure Finance (IIF) Rizki Priadi Hasan, Direktur Corporate Banking Bank Rakyat Indonesia (BRI) Riko Tasmaya, dan Direktur Pengembangan Golden Sedayu Andrew Boulas. Panel ini membahas pentingnya pembiayaan inovatif untuk mendukung pembangunan infrastruktur, penguatan system pangan, serta peningkatan ketahanan ekonomi yang berkelanjutan. 

Saat penutupan forum IABS, Pendekar Muda Leonard Sondakh, Konsul Jenderal Republik Indonesia di Sydney, menegaskan pentingnya menjaga momentum kolaborasi Indonesia dan Australia. Melalui forum ini, kedua negara diharapkan dapat terus memperluas kerja sama investasi dan perdagangan yang konkret, saling menguntungkan, serta mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Khususnya, untuk sector pangan, infrastruktur, hilirisasi industri, dan ketahanan ekonomi.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...